Melongok Suasana Sentra Industri Tahu dan Tempe di Purbalingga

Permasalahan yang dihadapi industri tahu dan tempe adalah bahan baku kedelai, dan teknologi pengolahan, kebersihan dan sanitasi

Melongok Suasana Sentra Industri Tahu dan Tempe di Purbalingga
tribunjateng/khoirul muzaki
Melongok Suasana Sentra Industri Tahu dan Tempe di Purbalingga 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG.COM, PURBALINGGA - Industri Kecil Menengah (IKM) tahu dan tempe di Purbalingga ternyata belum seluruhnya menerapkan standar Good Manufacturing Practices (GMP).

Padahal, standar ini merupakan prasyarat dasar bagi industri makanan, komestik dan farmasi untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi dan higienis.

Kepala Seksi (Kasi) Industri Agro, pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Purbalingga, Budi Baskoro, menjelaskan, GMP merupakan pengendalian mutu dan higienitas produk melalui pengendalian faktor lingkungan, kerja serta proses produksi.

GMP ini di antaranya mencakup design dan lay out pabrik, pemeliharaan dan sanitasi, pengendalian proses produksi, serta penanganan produk akhir atau siap jual.

"Memproduksi suatu produk bermutu tinggi dan higienis tidak cukup hanya dengan kegiatan inpeksi, namun mencakup keseluruhan aktivitas pengendalian," katanya, Senin (4/12).

Budi Baskoro mengatakan, IKM tahu tempe di Purbalingga tercatat sekitar 218 IKM. Sentra IKM tahu tempe tersebar di sejumlah wilayah yakni, di Kelurahan Kalikabong dan Desa Klapasawit, Kecamatan Kalimanah, Desa Selanegara, Kecamatan Kaligondang, Desa Limbangan dan Desa Kutasari di Kecamatan Kutasari, Desa Gandasuli, Kecamatan Bobotsari, Kelurahan Kandanggampang, Kecamatan purbalingga dan Desa Makam, Kecamatan Rembang.

Permasalahan yang dihadapi IKM tahu tempe, menurut dia, selain ketersediaan dan harga bahan baku kedelai, juga menyangkut teknologi pengolahan, kebersihan dan sanitasi ruang produksi.
Dari sisi persoalan teknologi pengolahan, lanjut Budi Baskoro, pengolahan masih menggunakan teknologi sederhana.

Hanya sebagian IKM yang sudah menggunakan teknologi tepat guna, antara lain menggunakan steam boiler.

"Penggunaan teknologi akan meningkatkan efisiensi produksi yaitu bisa hemat waktu, hemat biaya, hemat tenaga namun kualitas produksi lebih baik, lebih higienis serta kuantitas produksinya lebih meningkat," kata Budi Baskoro.

Sedangkan higienitas dan sanitasi proses pengolahan tahu dan tempe selama ini menjadi permasalahan utama.

Sebagian industri tahu dan tempe, menurut dia, masih terkesan kumuh, kurang menjaga kebersihan ruang produksi, serta menghasilkan limbah baik limbah padat maupun limbah cair yang dibiarkan tanpa diolah.

Padahal, sebagian limbah masih mempunyai nilai ekonomi. Karena tidak ditangani, limbah itu akhirnya mencemari lingkungan.

Dengan latar belakang permasalahan itu, Dinperindag Purbalingga akan menggelar pelatihan bagi IKM tahu tempe pada 5-7 Desember 2017 dengan peserta pengelola sentra IKM tahu tempe. (*)

Penulis: khoirul muzaki
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved