Breaking News:

Pacar Masih BAB Sembarangan? Putuskan Saja

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah Atikoh Ganjar Pranowo tak menampik BABS masih jadi kebiasaan di sejumlah masyarakat

Penulis: m nur huda | Editor: muslimah
INDIA 1
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Nur Huda

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah mencatat, masih banyak masyarakat di Jawa Tengah yang hingga kini masih memiliki kebiasaan Buang Air Besar Sembarangan (BABS), bahkan membudaya. Padahal mereka sudah memiliki jamban di rumahnya.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinkes Provinsi Jawa Tengah, Purwani mengungkapkan, dari sekitar 10 juta kepala keluarga (KK) yang ada di provinsi ini, lebih dari 1,4 juta KK di antaranya masih BABS. Lokasinya tersebar di seluruh wilayah Jateng.

"Karenanya, kita perlu melakukan percepatan. Sehingga tahun 2019, target kita harus 100 persen stop BABS. Perlu percepatan yang harus didukung semua sektor," katanya saat Talkshow Kampanye dan Edukasi Bidang Sanitasi Provinsi Jateng, di Rumah Dinas Gubernur 'Puri Gedeh', Selasa (5/12/2017).

Purwani berharap, seluruh pemangku kepentingan, mulai bupati/ wali kota, camat, kepala desa, memberikan dukungan regulasi, pendanaan, dan komitmen agar target tersebut bisa tercapai. Pihaknya akan menumbuhkan budaya malu, sehingga muncul 'demand' masyarakat.

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah Atikoh Ganjar Pranowo tak menampik BABS masih jadi kebiasaan di sejumlah masyarakat.

Semisal masih ada masyarakat yang merasa jika tidak BAB di sungai, tidak akan bisa tuntas. Padahal mereka sudah memiliki jamban di rumahnya.

Hal itu diperparah lagi dengan permakluman dari masyarakat yang seolah menganggap tindakan tersebut biasa saja.

"Padahal itu bisa merugikan orang lain, merugikan lingkungan, dan sebagainya. Saya saja kalau di perjalanan melihat pemandangan seperti itu (BABS) langsung 'ilfeel' (hilang feeling). Jadi tidak doyan makan," ujarnya.

Atikoh berharap, masyarakat mulai mengubah perilakunya dengan menumbuhkan budaya malu membuang limbah sembarangan.

Sebab cara itu yang dinilai paling efektif untuk menekan perilaku yang merugikan warga dan lingkungan tersebut.

"Saya mencontohkan keponakan saya yang terpaksa memutuskan hubungan dengan kekasihnya gara-gara masih BAB di sungai. Cewek-cewek lain pun mesti punya prinsip yang sama, bahwa saya tidak akan naksir kalau BAB-nya sembarangan," kata ibu satu anak ini.(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved