Peneliti Ungkap Lokasi Rawan Gempa Tahun 2018
Gempa bumi merupakan satu di antara bencana alam yang mengerikan. Mengerikan karena gempa bumi tidak dapat diprediksi dan bisa terjadi sewaktu-waktu.
Penulis: Awaliyah P | Editor: Awaliyah P
TRIBUNJATENG.COM - Sebentar lagi 2017 akan segera berlalu.
Berbagai prediksi dan ramalan tahun 2018 sudah beredar di media sosial.
Satu di antaranya adalah ramalan Nostradamus untuk 2018.
Tidah hanya peramal, namun peneliti juga memprediksi keadaan 2018.
Gempa bumi merupakan satu di antara bencana alam yang mengerikan.
Mengerikan karena gempa bumi tidak dapat diprediksi dan bisa terjadi sewaktu-waktu.
Bencana alam seperti badai bisa dilacak minggu-minggu sebelum kejadian.
Tornado dan badai salju juga bisa diprediksi karena ada musim dimana dua hal itu bisa terjadi.
Namun studi baru menujukkan bahwa manusia diimbau untuk waspada menghadapi gempa bumi yang diprediksikan akan terjadi pada 2018.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa rotasi bumi sedikit melambat.
Meskipun tidak mungkin memperkirakan gempa bumi secara akurat tapi menilik ke belakang melalui catatan seismik memungkinkan ahli geologi mendeteksi beberapa pola yang berbeda.
Sebuah studi baru yang dilakukan oleh ahli geologi Roger Bilham dari University of Colorado, Boulder, dan Rebecca Bendick dari University of Montana melacak kejadian gempa berkekuatan 7 atau lebih besar di seluruh dunia sejak tahun 1990.
Meskipun rata-rata hanya 15 guncangan besar, ada interval jarak yang merata dalam 117 tahun terakhir, di mana total gempa bumi ada sekitar 25 sampai 30 dalam skala tahunan.
Penelitian ini sudah dipresentasikan pada pertemuan tahunan Geological Society of America di Seattle dan dipublikasikan di Geophysical Research Letters.
Bilham dan Bendick melihat hal lain tentang periode rawan gempa yang mudah berubah yaitu adanya perlambatan periodik dalam kecepatan rotasi bumi.
Bumi yang padat ternyata tidak sepadat kelihatannya. Hal ini benar karena tidak hanya samudra dan udaranya, namun inti luar bumi yang sekitar 1.200 mil (2.200 km) tebal dan sebagian besar terdiri dari besi cair dan nikel.
Cairan cair itu cenderung mengendap, mengikuti pola yang berisolasi dari waktu ke waktu, pada skala yang jauh lebih kecil dan lebih cepat, air yang mengalir akan mundur dalam siklus yang terus berulang.
Dilansir dari time.com, gerakan semacam itu di dalam bumi sedikit mengubah kecepatan putaran bumi, menambah atau mengurangi 24 jam sehari sekitar satu milidetik - sebuah perubahan yang secara teratur dicatat oleh jam atom.
Ketika terjadi perlambatan, inti lelehan akan terus mengalami ketegangan di luar, mengingat hukum dasar Newton bahwa yang mana benda bergerak akan berusaha sekuat tenaga agar tetap bergerak.
Diduga perputaran bumi mulai melambat pada tahun 2011, dan kejadian baru-baru ini menunjukkan adanya pola yang mengganggu sedang terjadi di bumi.
Di antaranya gempa berskala 7,1 yang melanda Mexico City pada 19 September, gempa 7,3 di perbatasan Iran-Irak pada 12 November, dan 7,0 di Kaledonia pada 19 November.
Studi baru tidak hanya menunjukkan adanya kemungkinan terjadi gempa, juga mengarah ke tempat rawan gempa, yaitu di dekat khatulistiwa, berada dalam garis lintang 30º utara atau selatan.
Masuk akal bahwa ini akan menjadi zona bahaya karena ada titik di sepanjang garis ekuator - titik terluas planet - berputar hingga 1.000 mph (1.600 k/j) lebih cepat dari pada titik yang mendekati kutub, jadi perlambatan putaran keseluruhan akan lebih kuat sepanjang garis tengah tersebut.
Gempa Iran-Irak terjadi di sekitar 33º lintang utara, melebihi batas kartografi tersebut, namun tidak banyak.
Tidak dapat dikatakan bahwa 2018 akan menjadi tahun yang paling tidak stail secara geologis.
Namun tidak dapat dipungkiri bahwa gempa akan terjadi sewaktu-waktu.
Peneliti mengatakan bahwa gempa yang sebelumnya tidak bisa diantisipasi, setidaknya bisa diprediksi sedikit lebih tepat.
Adanya sedikit prediksi ini bisa membuat perbedaan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-gempa-bumi_20170209_135146.jpg)