Diklat Pelaut Akpelni Semarang Gunakan Sistem Semi Militer, Ini Penjelasannya
Direktur Utama Akpelni, Capt Achmad Sulistyo mengatakan bahwa sulit mengendalikan taruna tanpa adanya sistem semi militer.
Penulis: Reza Gustav Pradana | Editor: galih permadi
Laporan Reporter Tribun Jateng, Reza Gustav
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Stigma sebagian masyarakat di Indonesia ke sistem semi militer pada sekolah masih cenderung kepada kekerasan.
Hal itu membuat sebagian orang tua ragu-ragu untuk menyekolahkan anaknya di sekolah
Seperti yang diutarakan Dewi, warga Demak, dia melontarkan pertanyaan saat dialog interaktif tentang maritim di Akpelni beberapa waktu lalu, “Apakah diklat taruna di Akpelni bersistem semi militer?”
Direktur Utama Akpelni, Capt Achmad Sulistyo sebagai narasumber dialog tersebut menanggapi pertanyaan tersebut, bahwa sulit mengendalikan taruna tanpa adanya sistem semi militer.
Saat ditemui Tribunjateng.com pada Selasa (19/12/2017), Achmad Sulistyo mengatakan bahwa tujuan dari semi militer tersebut adalah untuk mengajarkan kedisiplinan, bukan kekerasan.
“Stigma masyarakat bahwa semi militer itu dekat dengan kekerasan. Apalagi untuk sekolah pelayaran memang membuat sebagian orang tua takut menyekolahkan anaknya,” ujarnya.
Sedangkan, menurut Achmad Sulistyo tidak ada unsur kekerasan di Kampus Akpelni.
“Untuk pendidikan semi militer tidak boleh ada unsur kekerasan. Jika ada yang melakukan tindak kekerasan, akan kami keluarkan,” tambah Achmad Sulistyo.
Tujuan utama adalah membentuk mental baja dan kedisiplinan yang tinggi.
Dia juga menambahkan bahwa minimal sisi kedisiplinan dari taruna Akpelni yang terbentuk dapat melatih taruna itu sendiri pada nantinya jika mereka memasuki dunia kerja di luar pelayaran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/akpelni_20171125_181947.jpg)