Bupati Kudus: Saya Ingin Tanamkan Rasa Hormat Kepada Ulama

Bupati Kudus DR H Musthofa tidak henti-hentinya memberi semangat kepada generasi muda.

Bupati Kudus: Saya Ingin Tanamkan Rasa Hormat Kepada Ulama
Istimewa

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Bupati Kudus DR. H Musthofa tidak henti-hentinya memberi semangat kepada generasi muda. Musthofa menyatakan, generasi muda merupakan pemegang tongkat estafet kepemimpinan di masa mendatang.

Di hadapan ratusan pelajar dan santri, Musthofa memberi contoh bahwa setinggi apapun pangkat seseorang tetap harus tawadlu’ (rendah hati) ketika di hadapan ulama.

Hal itu dilakukan Musthofa saat memberi sambutan dalam peringatan Hari Ngaji dan Maulid Nabi Muhammad di Pendopo Kabupaten Kudus, Selasa (19/12).

Saat sambutan Bupati Kudus dua periode tersebut lebih memilih berdiri di samping ulama yang saat itu hadir. Padahal, sudah disediakan mikrofon yang posisinya tepat berada di depan ulama.

“Kenapa saya memilih berdiri di sini (di samping) padahal di situ sudah disediakan mikrofon. Karena saya ingin memberi pelajaran kepada kalian (para pelajar dan santri) bahwa setinggi apapun apapun pangkat derajat kalian, rasa tawadlu dan hormat kepada ulama harus ditanamkan,” kata Musthofa.

Musthofa yang juga sebagai peraih Leadership Award 2017 dari Kementerian Dalam Negeri itu menambahkan, tugasnya sebagai pemimpin daerah selain mengantarkan masyarakat Kudus menuju kehidupan yang lebih layak juga sebagai pengantar generasi muda menuju ke arah yang lebih baik.

“Tugas saya sebagai Bupati di antaranya yaitu mengantarkan kalian para generasi muda agar menjadi generasi penerus yang memiliki rasa hormat kepada orang tua termasuk ulama,” katanya.

Oleh sebab itu, dalam kesempatan peringatan Hari Ngaji, peraih gelar doktor ilmu sosial itu menekankan kepada generasi muda agar lebih giat dalam mengaji. Karena tidak ada guna menguasi teknologi, dunia tanpa memiliki moralitas yang baik. Dengan mengaji, nilai moral dan budi luhur akan tertanam pada generasi muda.

Sikap Musthofa sebagai Bupati yang memperhatikan nasib pedagang itu juga ditunjukkan saat menyapa para pedagang pasar yang saat itu hadir. Musthofa enggan menyebut para pedagang sebagai ‘pedagang’. Dia lebih memilih menyebut ‘pengusaha’. Pasalnya, pedagang identik dengan hal transaksional. Padahal ada hal yang lebih penting dari itu, yaitu relasional. Bahwa pedagang harus menjaga relasi dalam setiap kesempatan.

“Makanya saya tidak menyebutnya pedagang, karena terkesan hanya transaksional. Beda kalau pengusaha ada relasional dan itu lebih pantas kalau kalian (para pedagang) disebut sebagai pengusaha,” katanya. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved