Senin, 13 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

PMI Cabang Solo Musnahkan 60 Kantong Darah Terinfeksi Penyakit Setiap Bulan

Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Kota Solo musnahkan 60 kantong darah setiap bulan

Penulis: akbar hari mukti | Editor: muslimah
Tribun Jateng/faisal affan
Ilustrasi donor darah 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Akbar Hari Mukti

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Kota Solo musnahkan 60 kantong darah setiap bulan.

Pemusnahan dilakukan karena darah tersebut terinfeksi sejumlah penyakit berbahaya.

Maka untuk menekan jumlah darah terinfeksi, PMI memperketat screening calon pendonor.
Begitu diungkapkan Sekretaris PMI Cabang Solo, Sumartono Hadinoto, Rabu (27/12/2017).

Sumartono menjelaskan, setiap bulannya PMI Solo dapat mengumpulkan setidaknya 12 ribu kantung berbagai golongan darah.

Dari jumlah tersebut, setengah persennya atau 60 kantong, diindikasikan berbahaya atau tidak layak.

Infeksi yang sering terdeteksi di antaranya HIV/AIDS, Hepatitis dan juga penyakit menular lain.

"Kalau ketahuan terinfeksi, maka akan langsung kami musnahkan," jelas dia.

Menurutnya pemusnahan dilakukan menggunakan alat bernama insinerator.

Alat ini, jelasnya, memiliki sistem kerja dengan pembakaran pada suhu tertentu. Sehingga, tidak meninggalkan sisa yang dapat membahayakan.

Selanjutnya, ia menjelaskan bagi pendonor yang memiliki darah berisiko penyakit, maka PMI bakal langsung melayangkan surat pemberitahuan.

"Kalau pas donor diketahui datanya termasuk nomor teleponnya, jadi kalau ketahuan langsung kami beritahu. Agar yang bersangkutan melakukan pemeriksaan lebih lanjut," jelasnya.

Sumartono juga menambahkan saat ini PMI Solo terus berbenah untuk menekan jumlah darah yang terinfeksi berbagai penyakit berbahaya.

Dengan pengetatan screening diharapkan darah yang ditampung di PMI dalam kondisi baik dan siap digunakan setiap saat.

"Untuk donor darah ada SOP nya, salah satunya donor harus dilakukan di tempat tertutup dan ber AC. Selain itu, jika kami mendapati ada calon pendonor yang bertato kami menolaknya. Karena pendonor bertato memiliki risiko lebih tinggi terhadap penularan penyakit," ungkap dia. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved