Terompet Tahun Baru Semakin Kurang Diminati, Dagangan Sular dan Parwi Tidak Laku

Pedagang terompet berjualan antara lain di Jalan Pandanaran, kawasan Simpanglima, dan Jalan Pemuda.

Terompet Tahun Baru Semakin Kurang Diminati, Dagangan Sular dan Parwi Tidak Laku
TRIBUN JATENG/AKHTUR GUMILANG
Calon pembeli melihat-lihat terompet yang dipajang di lapak di Jalan Pandanaran, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (31/12/2017). 

Sular tidak tahu persis mengapa terompet tak lagi diminati.

Dia menduga trennya sudah berubah.

"Dalam dua tahun terakhir, kondisi penjualannya mulai sepi. Tahun ini malah lebih sepi dibanding tahun lalu," paparnya.

Dia mengaku biasa berjualan terompet jelang momen pergantian tahun sejak 1995 atau sudah 22 tahun.

Sehari-hari Sular menjadi buruh tani atau bekerja serabutan di kampung halamannya.

Keluhan yang sama juga diungkapkan Parwi, sesama pedagang terompet yang membuka lapak di Jalan Pandanaran.

Parwi menjual alat tiup ini dengan harga bervariasi, mulai Rp 3.000-Rp 20.000.

Dari sekian banyak yang dia jual, terompet berbentuk corong seharga Rp 10.000 yang paling banyak diminati.

"Sabtu kemarin, ada yang membeli sampai 10 biji. Mungkin buat pesta tapi kalau yang beli perorangan sudah jarang," tutur Parwi.

Dia juga tidak tahu pasti alasan terompet kurang diminati.

Padahal tahun-tahun sebelumnya barang dagangannya itu selalu dicari orang.

"Ya, mungkin trennya sudah berubah. Tidak perlu terompet lagi untuk merayakan Tahun Baru," tuturnya. (*)

Penulis: Akhtur Gumilang
Editor: abduh imanulhaq
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved