Opini

Rambu Lalu Lintas Bukan Penghias Jalan

Adalah Garret Margon pada tahun 1922 menjadi saksi penting dalam kecelakaan Lalu Lintas paling serius di persimpangan di Chicag

Rambu Lalu Lintas Bukan Penghias Jalan
tribunjateng/m zainal arifin
SATU ARAH - Petugas memasang rambu jalan searah dari Pekunden menuju jalan Pandanaran Kota Semarang, Selasa (12/12/2017). 

TRIBUNJATENG.COM - Adalah Garret Margon pada tahun 1922 menjadi saksi penting dalam kecelakaan Lalu Lintas paling serius di persimpangan di Chicago Amerika Serikat, sejak itulah Garret Margon terinpirasi menciptakan tiang dengan ujung yang berbentuk huruf T dan terdiri dari tiga sinyal yaitu : “ Stop” , “ Go” dan “ Stop” untuk semua arah.

Sinyal dari ke tiga rambu ini membuat pengguna jalan mempunyai interval waktu dari berhenti hingga jalan dan begitu sebaliknya, rambu ini juga berguna bagi pejalan kaki terutama di persimpangan yang ramai ini merupakan cikal bakal rambu rambu seperti sekarang ini.

Sudah cukup lama manusia menggunakan rambu lalu lintas hampir 96 tahun seiring dengan perkembangan jaman mulai berkembang dari petunjuk yang bersifat konvensional maupun digital yang lebih mudah, cepat dan praktis.

Rambu lalu lintas di bedakan menurut warna untuk memudahkan pengguna jalan yaitu warna kuning di peruntukkan pemberi peringatan, warna biru diperuntukan sebagai perintah, warna hijau merupakan penunjuk atau informasi, warna putih merupakan warna rambu terakhir pemberi isyarat akhir larangan dan warna merah adalah warna diperuntukan larangan hal ini diatur menurut Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 13 Tahun 2014.

Seiring dengan perkembangan jaman dan padatnya aktivitas masyarakat modern juga berpengaruh pada lalu lintas di jalan raya sehingga di perlukan rambu sebagai petunjuk agar tercipta ketertiban dan kenyaman dalam berlalu lintas, dari jenis rambu yang paling sulit untuk di taati oleh masyarakat adalah rambu yang berwarna merah yaitu rambu larangan, banyak kasus pelanggaran yang di lakukan kenapa mereka melanggar ? ini menyangkut budaya sebagian masyarakat kita yang senantiasa melakukan dengan berbagai dalih lebih cepat dan praktis tidak memikirkan akibatnya.

Arti umum dari kata Budaya adalah cara atau pola hidup yang menyeluruh dan bersifat berkembang, sekali melakukan dan dibiarkan tanpa ada tindakan tegas maka perilaku tersebut akan selalu ada sesuai dengan sifat , hal ini sangat berbahaya bagi kehidupan dan beretika di jalan , tidak setiap titik rambularangan selalu di jaga oleh Kepolisian kesadaran dari masyarakatlah dituntut untuk mentaati dan menjaga agar fungsi rambu tetap terjaga sebagaimana mestinya.

Perilaku yang tidak bisa di toleren adalah berhenti pada tempat yang jelas jelas di larang untuk berhenti sampai batas 25 meter dari titik larangan pada sepanjang jalan tersebut, hal ini dapat terlihat banyak angkutan penumpang umum dengan alasan mencari penumpang dan berhenti pada belokan atau tikungan seenaknya, penentuan titik rambu sudah melalui tahapan dan kajian mendalam dengan melihat kepadatan arus dan letak simpul kemacetan serta kerawanan lalu lintas.

Pasal 106 ayat (4) butir a Undang undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan nomor 22 Tahun 2009 menyebutkan ; Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di jalan wajib mematuhi ketentuan Rambu perintah atau rambu larangan, marka jalan, alat pemberi isyarat lalu lintas, berhenti dan parkir, peringatan dengan bunyi dan sinar, kecepatan maksimal atau minimal dan atau , tata cara penggandengan dan penempelan dengan kendaraan lain.

Dan ditegaskan pada BAB XX Ketentuan Pidana pasal 287 ayat (1) setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang melanggar aturan perintah atau larangan yang dinyatakan dengan rambu lalu lintas sebagaimana di maksud dalam pasal 106 ayat (4) huruf b dipinadakan kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp.500.000,-.

Aturan sudah ada berikut penjelasannya namun pelanggaran yang semestinya bisa di minimalkan masih saja berkelanjutan ini merupakan pekerjaan extra bagi penegak hukum, dan elemen masyarakat secara keseluruhan.

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved