LIPUTAN KHUSUS
KISAH MISTIS di Sekitar Sumur Tua Penambangan Minyak di Ledok Blora
Selain menyimpan potensi ekonomi, sumur minyak tua di lapangan Ledok juga menyimpan cerita-cerita mistis.
TRIBUNJATENG.COM, BLORA - Selain menyimpan potensi ekonomi, sumur minyak tua di lapangan Ledok juga menyimpan cerita-cerita mistis. Di antaranya, terdapat beberapa pantangan yang tak boleh dilanggar oleh para penambang, jika tetap ingin rezeki mengalir lancar.
"Ada beberapa pantangan, antara lain: Tak boleh mabuk dan melakukan maksiat di sekitar sumur, serta tak boleh berkonflik dengan sesama penambang dan pihak lain yang terlibat," ucap bagian administrasi PT. Blora Patra Energi (BPE), Ismoyo Jati.
Menurut dia, masyarakat sekitar percaya jika para penambang melanggar pantangan, maka sumur tua juga akan turut 'murka'. Sumur yang biasanya berproduksi lancar, akan 'ngambek' tak mau mengeluarkan minyak.
"Ya percaya gak percaya, memang begitu keyakinan masyarakat di sini," tuturnya.
Cerita ganjil lain dialaminya sendiri, saat proses pemetaan dan membuat titik koordinat masing-masing sumur tua. Selain medannya yang sulit dan berpencar-pencar, ada hal tak lazim dialaminya.
"Ada satu sumur yang aneh, saat saya gunakan alat, titik koordinatnya gak mau muncul. Saya ulangi lagi gak mau, setelah beberapa kali baru berhasil," ujarnya.
Tak hanya itu, saat ia coba mendokumentasikan gambar salah satu sumur, tiba-tiba file foto yang telah disimpannya hilang begitu saja.
"Gambar sumur lain muncul, hanya satu sumur itu yang gambarnya tak ada, padahal semuanya sudah saya dokumentasikan," tutur dia.
Perihal adanya cerita ganjil di sekitar sumur tua di Ledok tak dipungkiri oleh Ketua Perkumpulan Penambang Minyak Sumur Timba Ledok, Supraptono.
Menurut dia, wajar muncul cerita-cerita tak lazim, mengingat lokasi dan umur sumur tua yang telah begitu lama, lebih dari 125 tahun. "Ya itu hal yang biasanya," katanya.
Kondisi minyak mentah di Desa Ledok tergolong bagus. Pertamina mematok batas maksimal kotoran hanya 10 persen. Apabila lebih dari itu maka akan dikembalikan kepada pemilik tambang untuk dilakukan proses penyaringan ulang.
"Tapi tidak ada yang kandungan kotorannya lebih dari 10 persen. Sebab minyak mentah di sini relatif bagus," imbuhnya.
Saat proses penimbangan di Pertamina pun disaksikan oleh pemilik tambang. Hal itu dilakukan guna menjaga keterbukaan agar pendapatan yang diterima oleh pemilik tambang sesuai dengan apa yang mereka kirim setelah dilakukan uji tingkat kandungan kotoran.
Pantauan Tribun Jateng, akses jalan menuju lokasi tambang minyak di Desa Ledok relatif bagus. Untuk menuju ke sana, berjarak sekitar 25 kilometer arah timur kota Blora. Namun ketika berada di lokasi tambang akses jalan masih sulit. Pihaknya tidak bisa memperbaiki akses jalan di lokasi tambang karena merupakan tanah milik Perhutani. (tribunjateng/cetak/liputan khusus)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/proses-penambangan-minyak-tradisional-sumur-tua-ledok-blora_20180116_102211.jpg)