Breaking News:

DEMI Halalnya Cinta Sejoli Ini Rela Menyusuri Lumpur dan Ijab Kabul di Rumah Petani

DEMI Halalnya Cinta Sejoli Ini Rela Menyusuri Lumpur dan Ijab Kabul di Rumah Petani karena desanya terkepung longsor

Penulis: khoirul muzaki | Editor: iswidodo
DEMI Halalnya Cinta Sejoli Ini Rela Menyusuri Lumpur dan Ijab Kabul di Rumah Petani - pasangan-pengantin-banjarnegara-rela-menyusuri-lumpur-jemput-penghulu_20180119_075134.jpg
tribunjateng/khoirul muzaki/ist
TERJANG LUMPUR - Nur Khasanah dan Bies, pasangan pengantin asal Suwidak, Wanayasa, Banjarnegara harus menerjang lumpur untuk bertemu penghulu di desa lain, 15 Januari 2018
DEMI Halalnya Cinta Sejoli Ini Rela Menyusuri Lumpur dan Ijab Kabul di Rumah Petani - menikah-di-tengah-kepungan-longsor_20180119_075404.jpg
tribunjateng/khoirul muzaki/ist
TERJANG LUMPUR - Nur Khasanah dan Bies, pasangan pengantin asal Suwidak, Wanayasa, Banjarnegara harus menerjang lumpur untuk bertemu penghulu di desa lain, 15 Januari 2018
DEMI Halalnya Cinta Sejoli Ini Rela Menyusuri Lumpur dan Ijab Kabul di Rumah Petani - pasangan-pengantin-menikah-di-rumah-petani_20180119_075301.jpg
tribunjateng/khoirul muzaki/ist
TERJANG LUMPUR - Nur Khasanah dan Bies, pasangan pengantin asal Suwidak, Wanayasa, Banjarnegara harus menerjang lumpur untuk bertemu penghulu di desa lain, 15 Januari 2018
DEMI Halalnya Cinta Sejoli Ini Rela Menyusuri Lumpur dan Ijab Kabul di Rumah Petani - nur-khasanah-dan-bies-pasangan-pengantin-asal-suwidak_20180119_075309.jpg
tribunjateng/khoirul muzaki/ist
TERJANG LUMPUR - Nur Khasanah dan Bies, pasangan pengantin asal Suwidak, Wanayasa, Banjarnegara harus menerjang lumpur untuk bertemu penghulu di desa lain, 15 Januari 2018

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Setelah kesulitan yang dialami seorang ibu hendak melahirkan dan anak-anak bersekolah, pergerakan tanah dan longsor di sejumlah wilayah Kecamatan Wanayasa, Banjarnegara juga menyulitkan pasangan warga yang hendak menikah.

Nur Khasanah (20) dan Bies (28), pasangan mempelai dari Desa Suwidak tidak pernah membayangkan hari perkawinannya pada Senin (15/1) lalu bakal diwarnai bermacam rintangan.

Mereka mendaftarkan rencana pernikahannya ke Kantor Urusan Agama (KUA) Wanayasa pada Jumat (5/1) silam. Akad nikah dijadwalkan pada Senin (15/1), bersamaan dengan acara resepsi pernikahan yang akan digelar di rumah mempelai perempuan di Dukuh Buana, Desa Suwidak.

Takdir tak mampu dibaca. Pada Minggu (7/1), bencana alam melanda wilayah itu. Puluhan hektare kebun warga di Dukuh Pramen, Desa Bantar longsor hingga memutus jalan kabupaten yang menghubungkan Desa Suwidak dengan desa lain.

Sebagian wilayah Desa Suwidak di bentang alam yang sama pun ikut mengalami pergerakan hingga sejumlah rumah mengalami kerusakan. Tetapi, apakah pernikahan pasangan itu harus tertunda karena faktor alam?

Acara pernikahan telah direncanakan matang dari dua pihak keluarga. Segala persiapan sudah disusun, termasuk undangan yang siap disebar. Tak mungkin pernikahan ditunda begitu saja. Sementara, bencana alam tak diketahui sampai kapan akan berakhir.

Mereka memutuskan tetap menggelar pernikahan tanpa harus mengubah jadwal. "Karena sudah dijadwal akad nikahnya tanggal itu dengan penghulu, persiapan sudah semua, jadi gak mungkin diubah lagi," kata kakak Nur Khasanah, Endang Pujiastuti, Kamis (18/1).

Hingga hari perkawinan itu datang, rumah mempelai perempuan di Dukuh Buana Desa Suwidak mulai ramai didatangi tamu. Ijab kabul keduanya dijadwalkan pukul 07.00, dilanjutkan acara resepsi pukul 09.00.

Sang penghulu dari KUA direncanakan datang ke tempat pernikahan melalui jalur alternatif via Desa Karang Tengah, karena jalan utama longsor.

Namun, meski pagi mulai beranjak, sang penghulu dari KUA Kecamatan Wanayasa belum juga datang. Keluarga mulai cemas, pasangan pengantin terlebih panik.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved