OPINI

Eling Sebagai Orang Tua

Eling Sebagai Orang Tua. Opini ditulis oleh Dr Arri Handayani, S.Psi.,M.Si, Kepala Pusat Kependudukan, Perempuan dan Perlindungan Anak

tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
Eling Sebagai Orang Tua. Opini ditulis oleh Dr Arri Handayani, S.Psi.,M.Si, Kepala Pusat Kependudukan, Perempuan dan Perlindungan Anak 

Opini ditulis oleh Dr Arri Handayani, S.Psi.,M.Si, Kepala Pusat Kependudukan, Perempuan dan Perlindungan Anak (PKPPA) – LPPM Universitas PGRI Semarang

TRIBUNJATENG.COM - Akhir-akhir ini kita seringkali disuguhi berita yang tidak terbayangkan sebelumnya. Kejadian yang tidak disangka-sangka dilakukan oleh anak-anak. Seperti, beberapa waktu yang lalu ada berita sekelompok anak SDmenggruduganak SD lainnya. Belum lagi kasus kenakalan remaja, kekerasan seksual, akses pornografi, serta penggunaan narkoba yang tiap hari semakin bertambah jumlahnya. Kondisi ini membuat kita miris dan prihatin dengan hal tersebut.

Ini adalah masalah moral yang wajib dicari solusinya. Tapi pada kenyataannya, orang tua karena berbagai kesibukan termasuk kesibukan kerja, perhatiannya menjadi terbagi.Tantangan orang tua di zaman modern ini adalah membagi waktu antara perhatian kepada pengasuhan anak dengan pekerjaan’kantor’nya.

Pada dasarnya keluarga dan pekerjaan adalah dua hal penting dalam kehidupan.Idealnya orang tua berlaku seimbang antara ranah pekerjaan dan keluarga. Sehingga dua-duanya harus mendapat porsi yang sama. Meskipun demikian sama di sini bukan semata-mata masalah pembagian waktu yang sama. Akan tetapi lebih pada skala prioritas. Artinya mana yang harus diutamakan, antara keluarga atau pekerjaan ketika keduanya sama-sama membutuhkan perhatian, skala prioritas yang akan menentukan. Atau mana yang memang harus diutamakan dari dua hal tersebut.

Akan tetapi kehadiran orang tua untuk anak bukan berarti otomatis akan menyelesaikan masalah. Nyatanya, saat ini betapa banyak orang tua yang hadir bersama keluarga tetapi seakan-akan terasa hampa. Karena semuanya sibuk dengan aktivitasnya sendiri-sendiri. Lebih tepatnya, semuanya sibuk dengangadgetnyasendiri-sendiri, sehingga kebersamaan itu hanya semu belaka.

Di sisi lain, sikap anak-anak yang sulit untuk diatur, cenderung semaunya sendiri dan tidak peduli dengan sekitarnya seringkali dikeluhkan orang tua. Orang tua seringkali akan terlibat konflik dengan anak. Kondisi hubungan yang tidak harmonis antara orang tua dan anak seperti ini adalah salah satu permasalahan klasik para orang tua.

Masyarakat menganggap bahwa pola asuh yang cenderung berpihak kepada anak akan menyebabkan anak bersikap demikian. Pola asuh yang “tidak melukai” anak, sehingga pada akhirnya orang tua cenderung memenuhi semua keinginan anak. Akan tetapi, ketika orang tua bersikap keras terhadap anak, itupun juga akan bermasalah baginya. Anak akan menjadi trauma, bahkan bisa jadi timbul rasa dendam kepada orang tua. Lalu bagaimana solusinya?

Mengasuh berkesadaran

Salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut adalah ketika orang tua menyadari tanggung jawabnya dalam mengasuh anak. Tanggung jawab yang tidak mudah. Ditambah lagi dengan situasi saat ini yang semakin memprihatinkan, maka orang tua dituntut menjaga sikap, tutur kata, bahkan penampilan untuk menjadi model yang baik bagi anak.

Melly Kiong menyebutkan hal tersebut sebagai konsepmindful parenting, yang dalam Bahasa Indonesia menjadi mengasuh berkesadaran. Terasa aneh, ketika mendengar istilah tersebut. Akan tetapi sesungguhnya sebagian dari para orang tua sudah menerapkan konsep ini.Mindful parentingmengacu pada tanggung jawab orang tua dalam mengasuh yang mendasarkan pada konsep yang berkesadaran ataupuneling. Hal ini berarti menjaga pikiran, ucapan dan tingkah laku dari hal-hal yang yang kurang pantas dilakukan sebagai orang tua.

Konsep mengasuh berkesadaran ini diwujudkan dengan,pertama, mengupayakan waktu berkualitas bersama anak. Seperti mendengarkan dengan penuh perhatian ketika anak menyampaikan sesuatu ataupun berbicara dengan penuh empati. Sedikit waktu tetapi berkualitas lebih berarti daripada banyak waktu tetapi terasa hampa.Kedua, orangtua memahami dan menerima anak tanpa menghakimi. Artinya menerima anak tanpa syarat. Selanjutnya,ketigasabar sebagai upaya mengelola emosi. Dalam hal ini sabar dalam upaya mengendalikan emosi diri, juga sabar dalam menghadapi emosi anak-anak.

Keempat, orangtua tidak menunjukkan fluktuasi yang berlebihan terhadap perilaku yang ditunjukkan anak. Artinya orangtua tidak terlalu menyanjung, terlalu membanggakan, ataupun terlalu mengelu-elukan ketika misalnya anak berprestasi. Akan tetapi sebaliknya, orang tua juga tidak terlalu memandang remeh, atau menyepelekan ketika anak melakukan sesuatu yang menurut pandangan orang tua adalah hal sederhana. Semua itu akan berdampak negatif bagi anak. Danterakhiradalah mampu bersikap welas asih dengan peduli kepada sesama ataupun lingkungan. Mengembangkan sikapwelas asihdalam keluarga, akan melahirkan anak-anak yang peduli kepada sesama.

Sesungguhnya kesadaran akan tugas mengasuh anak merupakan salah satu upaya membentuk kelekatan hubungan orang tua dan anak untuk mencetak pribadi unggul, tangguh dan berkualitas. Jika orang tua hanya memasrahkan pada pihak sekolah saja, tanpa ikut mengambil peran, bagaimana nasib generasi selanjutnya?. Padahal tantangan ke depan semakin berat. Maka sudah sepatutnya orang tua terlibat dengan penuh tanggung jawab dan mengusahakan untuk menjadi model yang baik untuk anak. (tribunjateng/cetak)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved