Kasus Perampokan

INI SOSOK Dua Pelajar SMK yang Tega Membunuh Sopir Taksi Online

INI SOSOK Dua Pelajar SMK yang Tega Membunuh Sopir Taksi Online. Orangtua pelaku adalah PNS

INI SOSOK Dua Pelajar SMK yang Tega Membunuh Sopir Taksi Online
tribunjateng/ist
Dua pelajar ditangkap polisi diduga sebagai pelaku pembunuhan perampokan driver Grab, 22 Januari 2018. Dua pelaku adalah pelajar kelas X di SMK Negeri di Kota Semarang. 

Setelah itu keduanya kemudian pulang mengganti baju yang penuh bercak darah dan menempatkan mobil di Jalan HOS Cokroaminoto. "Maksudnya ditaruh di sana untuk mendinginkan mobil, dalam artian saat suasana lebih kondusif akan diambil lagi, begitu juga handphone korban ditanam di daerah Banjir Kanal Barat (BKB) diberi tanda dengan bambu," ungkapnya.

Tanda itu dipasang karena keduanya berencana akan kembali mengambil handphone (Hp) tersebut untuk dijual. Kontak mobil, dan dompet korban dibawa tersangka IBR disimpan di rumahnya, sedangkan dua hanphone milik korban dibawa DIR dan kemudian ditanam di Banjir Kanal Barat.

Dari hasil pengembangan sementara, keduanya diperkirakan sudah merencanakan aksinya jauh-jauh hari sebelumnya. Hal itu karena diketahui, ia sempat mengejak kawan lainnya untuk beraksi.
"Awalnya ada tiga orang lagi yang diajak utuk melakukan tindakan ini, tapi katanya nggak mau dan nggak berani, lalu beraksilah keduanya," jelas pria yang akrab disapa Abi tersebut.

Karena memenuhi unsur perencanaan keduanya akan dijerat dengan pasal 340, 338, dan 365 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup. Meski demikian karena usia keduanya masih di bawah umur maka diperkirakan hukumannya akan lebih ringan.

Orangtua Tergolong Mampu

Dua tersangka penggorokan sopir taksi online DIR dan IBR merupakan rekan satu kelas. Mereka duduk di kelas X jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) SMKN 5 Semarang.

Kepala SMKN 5 Semarang, Suharto mengaku tidak menyangka jika dua siswanya tega melakukan perbuatan tersebut. Terlebih keduanya tidak pernah membuat catatan pelanggaran di Sekolah.

Menurutnya, satu pelanggaran yang dibuat adalah Senin (22/1) lalu keduanya terlambat datang ke sekolah. Setelah membunuh orang pada hari Sabtu (20/1), DIR dan IBR memang masih sempat kembali ke sekolah.
"Ya belajar seperti biasa, pulang juga sesuai waktunya tidak ada yang mencurigakan," beber Suharto.

Soal SPP yang dijadikan alasan kedua siswanya untuk membacok dan merampas mobil korban, ia pun menyangsikan. Sebab, soal SPP menurutnya tidak ada kendala terlebih pelaku dari keluarga mampu.
Suharto menjelaskan, soal pembayaran sekolah jika pun tidak mampu bisa disesuaikan dengan kemampuan hanya dengan komunikasi.

"Infonya orangtua sudah ngasih, cuma dari catatan sekolah memang baru dibayarkan sejumlah Rp 510 ribu dari total Rp 1 juta, tapi pembayarannya tidak ada patokan harus bulan ini atau kapan, ada kelonggaran," tandasnya.

Halaman
123
Penulis: rival al-manaf
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved