TERNYATA Ini Penyebab Sumur Tua Sendang Mas yang Ramai Dikunjungi Calon Pemimpin

TERNYATA Ini Penyebab Sumur Tua Sendang Mas yang Ramai Dikunjungi Calon Pemimpin. Lokasi di belakang Kantor Camat Banyumas

TERNYATA Ini Penyebab Sumur Tua Sendang Mas yang Ramai Dikunjungi Calon Pemimpin
TRIBUN JATENG/KHOIRUL MUZAKI
Eks rumah tinggal bupati tersebut, kini dipakai sebagai kantor Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas. 

TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS - Sekilas tidak ada yang aneh pada lubang berdiameter sekitar 15 sentimeter di belakang bekas rumah tinggal Bupati Banyumas, yang kini dipakai sebagai kantor Kecamatan Banyumas. Tetapi siapa sangka, sumur tua itu menyimpan sisi lain hingga membuatnya istimewa di mata masyarakat.

Lubang itu tak ubahnya sumber mata air biasa yang senantiasa memancarkan air dari perut bumi. Masyarakat menyebutnya Sendang Mas, atau kolam bewarna emas.

Sumur itu menjadi saksi bisu sejarah perpindahan pusat pemerintahan Banyumas semasa kepemimpinan Bupati Banyumas ketujuh, Raden Malik Ganda Kusuma, atau dikenal dengan Yudanegara II.

Eks rumah tinggal bupati tersebut, kini dipakai sebagai kantor Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas.
Eks rumah tinggal bupati tersebut, kini dipakai sebagai kantor Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas. (TRIBUN JATENG/KHOIRUL MUZAKI)

Juru rawat Sendang Mas, Triyono Indra berkisah, sekitar 1708 saat bumi Banyumas dalam kondisi kacau, sang pemimpin, Yudanegara II, memilih menyepi di hutan nan sunyi, bernama Wanasepi, yang kini masuk wilayah Desa Binangun, Banyumas.

Yudanegara bukan menghindari masalah yang menggerogoti pemerintahannya. Ia pergi untuk mencari ketenangan batin, bertapa di kesunyian, mendekati Ilahi, hingga ilham turun sebagai jawaban atas masalah yang dihadapi.

Suatu sore di Kamis Wage, saat matahari nyaris tenggelam, Yudanegara melihat garis cahaya jatuh di perbukitan, hingga hijau daun yang membungkus daratan berubah keemasan.

"Yudanegara II seperti mendapat petunjuk dari fenomena alam itu," kata juru pelihara Sendang Mas, Triyono Indra, Senin (22/1).

Yudanegara meyakini hal itu sebagai petunjuk yang telah ia nanti. Sang raja pun beranjak, lari mengikuti arah titik cahaya yang mengarah ke lembah di antara dua bukit.

Sampai di tempat yang dinamai Geger Duren itu, langkahnya terhenti. Ia menemukan sumber mata air (tuk) yang mengucur dari perut bumi hingga menggenangi muka tanah.

Yudanegara II merangkai setiap pertanda, lalu mengartikannya, hingga menjadi petunjuk yang utuh. Tempat mata air adalah ladang kemakmuran, karena di sana ada sumber kehidupan.

Halaman
12
Penulis: khoirul muzaki
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved