Rabu, 3 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kasus Perampokan

PENOLAKAN Teman-teman Sekelas yang Diajak Pelaku Beraksi Menjawab Begini

PENGAKUAN Teman-teman Sekelas yang Diajak Pelaku Beraksi. Keempat siswa itu menolak

Tayang:
Penulis: rival al manaf | Editor: iswidodo
tribunjateng/ist
Dua pelajar ditangkap polisi diduga sebagai pelaku pembunuhan perampokan driver Grab, 22 Januari 2018. Dua pelaku adalah pelajar kelas X di SMK Negeri di Kota Semarang. Pelaku berusia 16 tahun 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Polisi memeriksa tiga orang terkait perampasan dan pembunuhan sopir taksi online Go Car, Deni Setiawan, Rabu (24/1). Dari mereka diketahui, ada empat siswa yang diajak kedua pelaku, IBR (16) dan DIR (15), sebelum peristiwa tersebut terjadi.

Ketiga orang yang diperiksa adalah Kepala Pembina OSIS SMK Negeri 5 Semarang, Muhammad Abdul Aziz; ayah kandung IBR yaitu DSP (48); dan teman sekelas IBR, NDR.

Menurut Aziz, empat siswa yang diajak kedua pelaku adalah NDR, BNT, AND, dan RK. Mereka merupakan teman sekelas IBR dan DIR.

"Di antara keempat siswa, ada NDR yang datang ke sini. Dia cuma dimintai keterangan saja oleh polisi, sama seperti saya," kata Aziz di Mapolrestabes Semarang, Rabu.

Menurut Aziz, sebelum ke kantor pilisi, pihak sekolah juga telah meminta keterangan keempat siswa tersebut. "Saat kami tanya, mereka berempat mengaku tidak ikut saat diajak DIR dan IBR. Mereka menolak undangan kedua tersangka," jelasnya.

Sementara, DSP mengaku syok anaknya pelaku pembunuhan sopir taksi online. Padahal, dia sempat menghujat pelaku pembunuhan sebelum keduanya tertangkap, Senin (22/1) pagi.

"Saya sempat menghujat pelaku. Lah, saat para pelaku tertangkap Senin, saya dapat telepon dan sangat syok. Ternyata, satu orang di antara tersangka adalah anak saya," ungkap DSP.

Menurut DSP, lokasi penemuan Deni Setiawan hanya berjarak 200 meter dari rumahnya. Deni ditemukan bersimbah darah di pertigaan Perumahan Bukit Cendana 2, Jalan Cendana Selatan IV RT 03 RW 09, Sambiroto, Tembalang.

"TKP-nya tak jauh dari rumah saya, sekitar 200 meter. Cuma, anak saya, IBR, tinggal di rumah ibu angkatnya di Lemah Gempal, Barusari, Semarang Selatan," terangnya.

Terpisah, Kabag Humas Polrestabes Semarang, Kompol Suwarna, membenarkan ada beberapa orang yang diperiksa Rabu siang. "Ya, memang ada (yang diperiksa) tadi. Cuma, detailnya siapa saja dan statusnya apa saja, saya belum mendapat datanya," jelas Suwarna.

Meski demikian, ia mengungkapkan, jumlah rekan yang diajak tersangka IBR melakukan aksi kejahatan bertambah. "Kemarin kan yang diajak tiga. Namun, setelah dikembangkan, yang diajak ternyata empat orang tapi semua menolak, tidak berani," imbuhnya.

Rencananya, empat pelajar tersebut dipanggil penyidik untuk dimintai keterangan. Meski demikian, siapa yang sudah datang Rabu, ia belum dapat informasi. Menurutnya, keterangan rekan tersangka tersebut penting untuk melengkapi pemberkasan perkara.

Suwarna menjelaskan, proses pananganan kasus di bawah umur membutuhkan waktu lebih pendek. Sesuai aturan, penahanan pertama untuk kasus orang dewasa 20 hari, sedangkan anak atau dibawah umur hanya 10 hari.

Suwarna menyarankan Tribun Jateng langsung ke Satreskrim untuk mendapatkan data terkait penyidikan tersangka IBR. Namun, saat dikonfirmasi, Kasatreskrim Polrestabes Semarang, AKBP Fahmi Arifriyanto, belum bersedia memberi keterangan.

Dia pun menyangkal saat ditanya tentang tiga orang yang dimintai keterangan. "Salah itu. Besok saja. Soalnya, gelar (pemeriksaan) baru nanti (Rabu) malam," imbuh Fahmi.

Batasi Jam Operasi

Sementara, pembunuhan terhadap sopir taksi online membuat para pengemudi transportasi berbasis aplikasi tersebut lebih berhati-hati dalam mengambil pesanan. Bahkan, Joko Riyanto, satu di antara pengemudi transportasi online, membatasi jam operasi.

"Biasanya sampai larut. Sekarang, setelah peristiwa kemarin, sebelum pukul delapan saya sudahi ambil orderan," kata Joko.

Ke khawatirannya semakin menjadi setelah tersebar pesan siaran di grup Whatsapp tentang kabar seorang pengemudi ojek online tewas dirampok, Selasa (23/1) malam. "Tambah khawatir, apalagi ada gambar korban yang luka-luka. Masak, nggak ada seminggu ada dua kejadian," ucapnya.

Meski demikian, ia sedikit lega setelah mendapat kabar perampokan pengemudi ojek online itu hanya hoax. Kabag Humas Polrestabes Semarang memastikan, pesan siaran yang beredar di grup pengemudi online itu tak benar. (tribunjateng/gum/val)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved