Bangunan Pustaka Keraton Kasunanan Surakarta Dikunci, Pengunjung Bingung

Bangunan Sasana Pustaka di kompleks Keraton Kasunanan Surakarta diketahui dikunci dan digembok.

Bangunan Pustaka Keraton Kasunanan Surakarta Dikunci, Pengunjung Bingung
tribunjateng/akbar hari mukti
Ketua Lembaga Hukum Keraton Kasunanan Surakarta, KP Eddy Wirabhumi 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Akbar Hari Mukti

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Bangunan Sasana Pustaka di kompleks Keraton Kasunanan Surakarta diketahui dikunci dan digembok.

Sejak 10 bulan, penggembokan Sasana Pustaka ruangan di Keraton Surakarta disebut berdampak terhadap sejumlah kegiatan yang seharusnya dilakukan di kawasan tersebut.

Ketua Lembaga Hukum Keraton Kasunanan Surakarta, KP Eddy Wirabhumi memaparkan, sebelumnya dua pihak yang sempat terlibat konflik di Keraton yakni Lembaga Dewan Adat dan Raja Keraton Surakarta sempat melakukan rekonsiliasi, 12 September 2017 silam.

Namun menurutnya upaya ini belum berhasil mencairkan suasana di keluarga Keraton tersebut.

Eddy menjelaskan, akibat penggembokan ini, sejumlah kegiatan pun terganggu.

Di antaranya terganggunya latihan Bedaya Ketawang, latihan karawitan, latihan tari untuk anak, hingga pambiworo atau pembawa acara bahasa Jawa.

"Selain itu akibat penutupan di Sasana Pustaka oleh Raja, tahun ini jurusan filologi di UNS tidak bisa masuk. Tak hanya itu untuk mahasiswa S2 dan S3 yang biasanya menggunakan sumber dari Keraton juga terhenti," terangnya, Jumat (26/1/2018).

Eddy menuturkan dampak yang ditimbulkan akibat penutupan tersebut sangat luas. Bukan hanya masalah adanya penurunan pendapatan dari pariwisata saja, dampak yang lebih parah lagi katanya adalah kelangsungan sejumlah koleksi milik keraton yang masuk sebagai Benda Cagar Budaya (BCB).

"Dengan penutupan ini tidak bisa dilakukan pemeliharaan dan ini mengancam kelangsungan BCB. Termasuk juga tempat untuk ngisis wayang juga ditutup," papar dia.

Ia menyatakan, pihaknya juga kerabat keraton sangat menyayangkan kondisi ini.

Mengingat sebelumnya, pihaknya sudah berupaya untuk bersatu dengan kubu Raja Keraton Kasunanan Surakarta PB XIII, Sinuhun Hangabehi.

Dirinya pun menuding ada sejumlah pihak yang sengaja memanfaatkan momen ini untuk mendapatkan keuntungan.

"Kalau sinuhun tak bisa berbicara, cukup maklumat saja. Jangan kemudian keratonnya ditutup. Ini jelas sangat disayangkan dan ini juga sudah melanggar aturan. Dan kalau pemerintah tahu penutupan ini tapi diam saja, berarti pemerintah juga ikut bersalah," ujarnya.

Eddy mengatakan selama ini pihaknya sudah berupaya untuk berkomunikasi dengan Sinuhun. Hanya saja menurutnya upaya ini tak pernah berhasil sebab Sasana Pustaka masih terkunci hingga kini. (*)

Penulis: akbar hari mukti
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved