Focus

Waspadai Predator Seksual

Kabar ini terungkap dan menjadi konsumsi umum manakala sang korban, mengunggah video berisi curahan hati terkait kejadian tersebut

Waspadai Predator Seksual
Net
ILUSTRASI 

SEMARANG - Sebuah rumah sakit swasta di Surabaya menjadi sorotan. Sayangnya, bukan karena fasilitas atau layanan kesehatan yang memuaskan. Rumah sakit di kawasan elit ini menjadi pemberitaan karena kasus pelecehan seksual yang dilakukan seorang pria perawat kepada seorang wanita yang menjadi pasien.

Kabar ini terungkap dan menjadi konsumsi umum manakala sang korban, mengunggah video berisi curahan hati terkait kejadian tersebut. Menurut pasien, sang pria perawat menggerayangi dan memegang payudara saat korban masih dalam pengaruh obat bius. Warga net yang melihat tayangan ini kemudian ramai-ramai membagikan video tersebut lewat akun media sosial masing-masing. Tentu saja, ditambahi bumbu tulisan sebagai pengantar.

Beragam tanggapan disampaikan warga net. Ada yang prihatin, bersimpati, mengecam, bahkan melontarkan kata kasar untuk sang pelaku. Ada juga yang tak menyangka, kasus pelecehan seksual terjadi di lingkungan rumah sakit. Lingkungan yang identik dengan penghuni kamar yang secara fisik tidak sehat dan butuh perhatian. Bahkan, secara psikologis juga sudah menanggung beban karena memikirkan dampak dari sakit yang diderita. Rumah sakit pun tak lagi aman.

Sebenarnya, upaya pencegahan kasus pelecehan terhadap pasien sudah diterapkan beberapa rumah sakit. Mereka membuat aturan, pasien perempuan akan mendapat layanan perawatan dari perawat perempuan. Kebijakan ini diharapkan bisa memberi rasa aman dan nyaman terhadap pasien yang secara tidak langsung bisa mempercepat proses penyembuhan. Namun, tentu saja, upaya pencegahan tak selamanya ampuh. Selalu ada celah bagi mereka yang punya niat jahat.

Dalam sebulan terakhir, kasus di Surabaya ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, kasus pelecehan seksual terhadap perempuan dan viral di dunia maya juga terjadi di Depok, Jawa Barat. Seorang perempuan yang tengah melintas di jalan kampung, tiba-tiba didekati pemuda yang mengendarai sepeda motor. Tanpa disangka, sang pemuda meremas payudara perempuan ini dan buru-buru tancap gas melarikan diri.

Perbuatan predator payudara ini terungkap lantaran terekam CCTV yang terpasang di satu rumah warga. Lewat rekaman kamera tersebut, polisi berhasil mengidentifikasi plat nomor dan ditindaklanjuti dengan mencari pemilik motor. Hasilnya, sepekan setelah video rekaman itu viral di dunia maya, pelaku berhasil di bekuk. Pelaku dijerat Pasal 281 KUHP tentang Kejahatan terhadap Kesusilaan dengan ancaman hukuman 2 tahun 8 bulan penjara.

Dua kasus pelecehan seksual ini menjadi bukti, tak ada tempat yang aman bagi perempuan. Kejahatan seksual bisa terjadi dimana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja, bahkan orang yang tak terduga. Soal ini, tentu upaya pencegahan tak bisa hanya dilakukan oleh si perempuan. Jangan memakai baju seksi, jangan berdandan menor, atau jangan bersikap yang mengundang perhatian pria tak bertanggung jawab, bukanlah solusi. Seperti halnya kejahatan lain, yang menjadi akar pelecehan seksual adalah adanya niat dari pelaku.

Seperti yang diakui pelaku peremas payudara pejalan kaki di Depok. Kepada polisi, dia mengaku meremas payudara sang perempuan karena iseng. Entah makna iseng seperti apa yang dia pahami sehingga berbuat merendahkan wanita yang tak dia kenal.

Dan sepertinya, tak ada obat pencegah yang tepat untuk perilaku seperti ini. Yang bisa dilakukan, setidaknya, menanamkan pertanyaan sederhana. Kalau perempuan korban pelecehan seksual itu adalah ibu, adik, kakak, atau teman dekat kita, apakah kita masih akan melakukan pelecehan seksual itu? (*)

Penulis: rika irawati
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved