Korupsi e KTP

Begini Curhat Gamawan yang Berkali-kali Dipanggil Jadi Saksi Kasus e-KTP

Begini Curhat Gamawan yang Berkali-kali Dipanggil Jadi Saksi Kasus e-KTP. "Saya jujur yang mulia, saya tidur hanya tiga jam"

Begini Curhat Gamawan yang Berkali-kali Dipanggil Jadi Saksi Kasus e-KTP
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Saya jujur yang mulia, saya tidur hanya tiga jam. Lalu, saya juga kadang dipanggil bersaksi. Saya juga tidak bisa kemana-mana. Sengsara saya kata GAMAWAN FAUZI 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Selan sumpah demi Allah, siap dihukum mati, dan mengaku sebagai anak ulama, mantan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi juga sampai mencurahkan cerita kehidupannya dalam persidangan kasus e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (29/1).

Gamawan menyampaikan kepada majelis hakim, ia hidup dalam kesengsaraan selama dua tahun terakhir karena kasus dugaan korupsi proyek e-KTP turut menyeretnya sebagai salah satu pihak yang diduga menerima aliran dana. "Saya sedih sudah dua tahun betul-betul sengsara," ucapnya.

Selain itu, dia juga mengaku hidupnya "terpenjara" karena harus bolak-balik menjalani pemeriksaan di KPK dan bersaksi di Pengadilan Tipikor di Jakarta.

"Saya jujur yang mulia, saya tidur hanya tiga jam. Lalu, saya juga kadang dipanggil bersaksi. Saya juga tidak bisa kemana-mana. Sengsara saya," ungkapnya.

Gamawan "curhat" terkait kasus e-KTP bukan kali pertama. Ia juga pernah melakukannya saat menjadi saksi kasus e-KTP untuk terdakwa Andi Narogong di Pengadilan Tipikor Jakarta pada 9 Oktober 2017.

Saat itu, ia menyampaikan di muka persidangan bahwa ia malu namanya disebut dalam dakwaan korupsi proyek pengadaan e-KTP. Dia disebut menerima uang sebesar 4,5 juta Dolar AS dan Rp 50 juta dari proyek tersebut.

Ia menceritakan, dirinya kerap ditanya oleh warga tentang kebenaran penerimaan uang dari Andi Narogong setiap kali pulang ke kampung halaman, Solok, Sumatera Barat.

Bahkan, ia sampai selalu membawa kuitansi di dalam kantong celana agar bisa menguatkan bantahannya saat menjawab pertanyaan para warga.

"Saya sangat malu, seolah saya terima dari Andi Rp 50 juta. Saya pulang kampung, saya ditanya, apa benar terima dari Andi?" ujar Gamawan saat itu.

Padahal, lanjut Gamawan, uang sebesar Rp 50 juta tersebut merupakan hasil honor sebagai pembicara di lima kota.

"Honor itu dipotong pajak dan ada tanda tangan saya. Saya juga dikasih honor waktu jadi pembicara di KPK, tapi saya tidak tanya dari mana uangnya. Saya malu. Terpaksa, kalau ke mana-mana saya bawa bukti (kuitansi) ini," kata Gamawan. (tribunjateng/cetak/Tribun Network/Ryo/Coz)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved