OPINI

Menggapai Satu Abad NU

Menggapai Satu Abad NU.Opini ditulis oleh Mukhamad Zulfa/Pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (asosiasi pesantren) NU

Menggapai Satu Abad NU
tribunjateng/cetak
Opini ditulis oleh Mukhamad Zulfa/Pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (asosiasi pesantren) Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, aktif belajar di Pascasarjana UIN Walisongo 

Opini ditulis oleh Mukhamad Zulfa/Pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (asosiasi pesantren) Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, aktif belajar di Pascasarjana UIN Walisongo

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Nahdlatul Ulama (NU) memiliki nilai sejarah yang kuat dalam perjalanan bangsa Indonesia. Lahir pada 31 Januari 1926 melalui berbagai latar belakang baik keagamaan dan sosial kemasyarkaatan. Kehadiran NU memberikan ruang baru beraktualisasi kader bangsa pada saat itu untuk berorganisasi, bermasyarakat dan menyatukan visi dan misi keislaman.

92 tahun umur NU hingga sekarang mampu bertahan menandakan organisasi sosial kemasyarakatan ini dapat beradaptasi dengan zaman. Pernah menjadi partai politik tak menjadi NU menjadi partai politik terus menerus. Transformasi bagi pengurusnya menjadi sebuah keniscayaan yang tak terelakan. Arus teknologi yang sedemikian rupa mengharuskan organisasi yang lahir dari rahim pesantren ini memperbarui aspek-aspek yang dianggap penting untuk menyelaraskan dengan zaman.

Disisi yang lain, NU muncul atas respon terhadap perkembangan keislaman yang ada di tanah Haram. Akan tetapi sekarang, NU harus menjadi garda terdepan dalam memberikan sumbangsih terhadap perkembangan peradaban ke depan. Komitmen nasionalisme dan kebangsaan santri tak diragukan lagi. Pesantren merupakan jangkar kebangsaan (Abdul Mun’im Dz: 2016). Secara konsisten santri dan pesantren menjadi garda terdepan dalam melawan penjajah baik sebelum ataupun paska kemerdekaan.

Dalam lintasan sejarah secara garis besar (Hermanu: 2017) membenarkan bahwa peran santri dalam kontribusi bangsa ini sangat besar. Santri terus menjaga keislaman di nusantarara ini. Ketika peperangan fisik diperlukan mereka akan siap turun. Akan tetapi ketika mereka tak diperlukan di medan perang; mereka akan mengambil peran untuk tetap di pesantren belajar dan memajukan bangsa.

Melihat kekuatan NU mulai dari pengurus besar hingga pengurus ranting sudah mulai tertata dengan bagus. Kekuatan inilah yang mampu menghidupkan organisasi ini mampu menopang jama’ah (warga nahdliyyin) yang berada di akar tumput. Koordinasi yang bagus inilah memungkinkan menjaga dan membentuk tradisi Islam rahmatan lil alamin.

Apabila dilihat lebih mendalam bahwa tugas dan tanggung jawab pesantren adalah mampu mengembangkan dua potensinya, yaitu potensi pendidikan dan potensi kemasyarakatan (MA. Sahal Mahfudh: 1999) Potensi inilah yang harus menjadi inti dari NU yang telah dilahirkan dari pesantren yang kebanyakan tumbuh subur di pedesaan. Akan tetapi bukan lokasi tempat dimana pesantren berada, nilai-nilai luhur yang ditanamkan inilah yang terus dijaga.

Dengan kekuatan akar yang kuat inilah, pemahaman keagamaan ala NU mulai dilirik oleh negara lain untuk bisa disesuaikan (dikembangkan) di negaranya. Misalnya Afghanistan, negara yang hanya memiliki 7 suku besar ini ingin mengembangkan Islam yang ramah seperti Indonesia. Tentu ini tak lepas dari prinsip kebaikan bermasyarakat (mabadiu khaira ummah); kejujuran, amanah, adil, tolong-menolong dan konsisten. Lima prinsip ini yang mungkin luput dari penglihatan khalayak tentang sejatinya NU.

Tentu tak semudah apa yang dikatakan dalam diskusi ataupun debat kusir, garis sejarah telah menorehkan bahwa, perjuangan NU tak hanya untuk Islam. Sebelum dan paska kemerdekaan NU menjadi garda depan menjaga bangsa bahkan, hingga sekarangpun komitmen itu terus dijaga. Secara keseluruhan NU baik dari pengurus mustasyar, syuriah, tanfidziyyah, lembaga dan badan otonom menjunjung tinggi tujuan organisasi; yaitu Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah Wal Jama'ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Apabila boleh dikatakan secara sederhana bahwa sejatinya menjaga NU adalah menjaga bangsa.

Selain itu, semangat kebersamaan, saling bekerjasama, berbuat kebaikan secara terorganisir menjadi cita-cita mulia untuk diwujudkan. Prinsip kesederhanaan yang selalu ditekankannahdliyyinmenjadi pondasi dasar untuk membangun negara ini tanpa kesombongan. Hal penting lain yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengajarkan tradisi, budaya adiluhung ini pada generasi selanjutnya. Generasi yang telah berbeda zaman harus mampu mendapatkan substansi dari sebuah tradisi. Mereka akan mudah memahami apa tujuannya sehingga mampu dibungkus menjadi sikap dan nilai yang sesuai dengan kehidupan mereka. Perekat yang berupa tradisi dan budaya ini menjadi pintu masuk gerbang benteng untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan NKRI. Semoga. (tribunjateng/cetak)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved