Psikolog Cantik Kota Semarang Ini Tidak Setuju Jika Sekolah Internasional Tidak Pernah Berikan PR.

PR atau pekerjaan rumah seringkali dianggap hal yang menyita waktu untuk bermain.

Psikolog Cantik Kota Semarang Ini Tidak Setuju Jika Sekolah Internasional Tidak Pernah Berikan PR.
wilujeng puspita dewi
Patricia Yuanila, Psikolog kota Semarang saat ditemui di Integra HR Consulting, Jalan Taman Sumbing 281, Semarang, Jawa Tengah. Kamis (1/2/2018) 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Wilujeng Puspita Dewi

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - PR atau pekerjaan rumah seringkali dianggap hal yang menyita waktu untuk bermain.

Hal tersebut menjadi alasan bagi sebagian sekolah internasional di Kota Semarang untuk mengurangi bahkan tidak pernah memberikan PR kepada siswanya.

Namun menurut Psikolog kota Semarang,  Patricia Yuanila, PR justru sangat penting diberikan.

"PR membantu siswa untuk mereview kembali pelajaran yang telah diajarkan di sekolah," ungkap psikolog yang bekerja di Integra HR Consulting, Jalan Taman Sumbing 281, Semarang, Jawa Tengah. Kamis (1/2/2018).

Memang, akhir-akhir ini, PR menjadi perdebatan diatara kalangan pendidik. Bahkan beberapa sekolah melarang memberikan PR kepada para siswi.

"Untuk sekolah nasional yang sekarang menerapkan fullday, meskipun itu tidak tepat ya, namun memang akan jauh lebih tidak tepat lagi jika diberikan PR. Beda dengan sekolah Internasional," tutur psikolog cantik kelahiran 1983 tersebut.

Pasalnya, sekolah Internasional memiliki pelajaran yang tidak sebanyak sekolah Nasional. Mata pelajaran di sekolah internasional hanya memfokuskan di matematika, physics, chemistry, english, mandarin, dan beberapa pelajaran pilihan.

"Sekolah Internasional memiliki pembahasan yang lebih mendalam pada setiap mata pelajarannya. Karena itu, mereview kembali dengan memberikan PR itu perlu," ungkapnya.

Namun, PR yang diberikan harus berkaitan dengan materi dan pembahasannya lebih dalam. Apabila PR yang diberikan tidak sesuai dengan apa yang di pelajari di sekolah, maka PR tersebut cenderung tidak efektif dan memang benar mengurangi waktu bermain anak. (*)

Penulis: Wilujeng Puspita Dewi
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved