Tahun 2017, PDRB Jateng Capai Rp 1,187 Miliar

Pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah mengalami peningkatan. Hal tersebut disebabkan industri Jateng terus mengalami kemajuan.

Tahun 2017, PDRB Jateng Capai Rp 1,187 Miliar
Shutterstock
Ilustrasi 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah mengalami peningkatan. Hal tersebut disebabkan industri Jateng terus mengalami kemajuan. Berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto Jateng tahun 2017 mencapai Rp 1.187 miliar.

Kepala Badan Pusat Statistik ( BPS ) Provinsi Jawa Tengah Margo Yuwono mengatakan, prekonomian Jateng jika besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku tahun 2017 mencapai Rp 1.187.048,81 miliar dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 894.050,47 miliar.

"Ekonomi Jateng tahun 2017 tumbuh stagnan pada angka 5,27 persen. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha lnformasi dan Komunikasi yakni sebesar 13,27 persen," kata Margo pada Senin (5/2/2018).

Selain itu, struktur ekonomi Jateng Tahun 2017 dari sisi produksi masih tetap didominasi oleh lapangan usaha industri pengolahan dengan kontribusi sebesar 34,96 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran didominasi oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PKRT) dengan kontribusi sebesar 60,71 persen.

Margo menambahkan ekonomi Jateng triwulan lV-2017 mencatatkan pertumbuhan 5,40 persen year on year (yon-y). pertumbuhan dari sisi produksi didorong oleh semua lapangan usaha, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai lapangan usaha informasi dan komunikasi yang tumbuh 18,81 persen.

"Dari sisi pengeluaran, pendorong pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Ekspor yang tumbuh sebesar 23,55 persen. Perekonomian Jateng masih di topang oleh industri pengolahan terutama garmen karena sudah sejak lama menjadi andalan," ujarnya.

Ia menuturkan jika ekonomi Jawa Tengah triwulan lV-2017 mengalami pergerakan penurunan sebesar 2,18 persen quarter to quarter (q-to-q). Dari sisi produksi, penyebab utamanya oleh pertumbuhan lapangan usaha, pertanian, kehutanan dan perikanan yang mengalami penurunan sebesar 24,81 persen.

"Selain itu, dari sisi pengeluaran disebabkan komponen impor yang meningkat hingga 21,40 persen, komponen ekspor hanya tumbuh 1,68 persen," tuturnya.

Margo mengimbau agar pengusaha mulai menggunakan bahan baku dari dalam negeri supaya indeks impor di Jateng tidak terus mengalami kenaikan dan bisa ditekan.

"Naiknya impor di Jateng yang naik disebabkan oleh beberapa perusahaan industri pengolahan yang masih bergantung dengan bahan baku dari luar negeri," tambahnya.

Penulis: Alexander Devanda Wisnu P
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved