Pasar Imlek Semawis Kembali Dibuka, Banyak Produk Asli Pecinan Yang Wajib Dicoba
Tiga hari menjelang perayaan Pasar Imlek Semawis, para panitia serta pengurus yayasan Komunitas Pecinan Semarang Untuk Pariwisata (Kopi Semawis)
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Faizal M Affan
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tiga hari menjelang perayaan Pasar Imlek Semawis, para panitia serta pengurus yayasan Komunitas Pecinan Semarang Untuk Pariwisata (Kopi Semawis), telah usai melaksanakan doa bersama dan syukuran di Klenteng Tay Kak Sie, Jumat (9/2) siang.
Prosesi doa diawali dengan memohon kepada para dewa, demi kelancaran acara Pasar Imlek Semawis.
"Kami melakukan doa bersama dan syukuran ini supaya para dewa memberkati acara, sehingga berjalan dengan lancar. Sekaligus mengajak pemuka agama untuk mengadakan syukuran. Sedangkan nanti sore, akan ada prosesi ketok pintu," terang Harjanto Halim, ketua komunitas.
Perayaan Pasar Imlek Semawis yang diselenggarakan mulai tanggal 12 hingga 14 Februari ini, tidak seperti biasanya. Karena hanya separuh ruas jalan yang akan ditutup, untuk Pasar Imlek Semawis selama tiga hari.
"Karena berdasarkan masukan dari teman-teman yang tinggal di sana, akan sangat menganggu jika seluruh ruas jalan di tutup. Supaya mereka juga bisa melakukan aktivitas lain dari mulai pagi hingga sore," imbuhnya.
Tema yang digunakan oleh panitia untuk acara kali ini, yakni PAZ Now (Pasamuan Anak Zaman Now). Kata pasamuan berasal dari bahasa Jawa 'pasamuwan', yang berarti pakehan, paklumpukaning wong-wong sawetara, pista mangan enak, kumpulan, atau bisa juga srasehan.
"Gagasan pasamuan timbul karena dorongan untuk meneruskan jalinan sosial masyarakat, yang dibawa oleh para penduduk di kawasan Pecinan dengan masyarakat Kota Semarang. Mengapa kami tambahi dengan kalimat zaman now, karena anak yang terlahir di era saat ini kurang greget dengan jalinan sosial mereka, dan lebih sibuk dengan gadget yang mereka miliki. Padahal mereka adalah penerus kultur yang sudah turun temurun ada di kawasan ini," beber Harjanto.
Selain tema dan penataan ruas jalan Pasar Imlek Semawis, panitia juga akan mengadakan bazar dan tradisi tok panjang. Harjanto mengatakan, tradisi tersebut berupa makan bersama di meja panjang di malam Imlek.
"Tradisi ini biasanya kami lakukan ketika seluruh keluarga berkumpul dan makan bersama di meja panjang pada malam Imlek. Maka dari itu, tradisi ini akan kami tunjukkan di Pasar Imlek Semawis nanti. Selain itu, kami juga akan memunculkan produk-produk asli buatan warga pecinan yang belum banyak dikenal orang luar," katanya.
Produk yang dimaksud Harjanto yakni, kecap Mirama, pia, kuaci gajah, lumpia, pengerajin kertas, dan pengerajin batu. Selain itu, saat Pasar Imlek Semawis ini dibuka, panitia akan menampilkan kuliner khas warga Pecinan.
"Kami ada Nasi Goreng Jati, yang bermakna kesederhanaan dan kesahajaan. Lalu ada Yusem, yaitu berupa salad ikan yang berisi wortel, mentimun, lobak, jahe, manisan buah, jeruk, minyak wijen, dan paling utama wijen," tuturnya.
Rumah-rumah yang ada di sekitar ruang jalan Pasar Imlek Semawis juga akan dihiasi dengan tebu hitam. Bagi warga pecinan, tebu ini mempunyai filosofi supaya manusia selalu rendah hati dan tidak lupa dengan traidisinya.
"Kita tahu tebu semakin dekat dengan akar maka akan semakin manis. Jadi kita sebagai manusia yang berakal dan berilmu, juga harus tetap rendah hati dan tidak lupa dengan tradisi yang diajarkan oleh nenek moyang kita. Kami akan menyiapkan tebu sekitar 100 batang, supaya bisa dipasang di setiap rumah," pungkasnya.(*)