Melihat Perjuangan Anak Miskin Desa di Hutan Lereng Gunung Slamet Meraih Gelar Sarjana 

Di tempat yang tak layak disebut asrama itu, anak-anak dari desa pinggiran hutan di Jawa Tengah selatan ini diajarkan keterampilan hidup

Penulis: khoirul muzaki | Editor: m nur huda
TRIBUN JATENG/KHOIRUL MUZAKI
Suasana pembelajaran sekolah kader desa Brilian di Desa Singasari Karanglewas Banyumas. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS - Gubuk sederhana di tengah kebun Desa Singasari, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, begitu berarti bagi puluhan anak desa yang tengah berikhtiar mengubah nasib.

Dari tempat yang disebut Sekolah Kader Desa Brilian itu, 25 remaja desa kini berhasil mengenyam pendidikan tinggi di berbagai perguruan tinggi di Purwokerto Banyumas.

Dua di antaranya bahkan telah sukses menyandang gelar sarjana dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed).

Di tempat yang tak layak disebut asrama itu, anak-anak dari desa pinggiran hutan di Jawa Tengah selatan ini bukan hanya belajar pengetahuan umum seperti diajarkan di sekolah formal.

Mereka diajarkan keterampilan hidup serta penguatan karakter yang mengadopsi kearifan lokal.

Saat matahari mulai naik, Riyadi, Dasro dan Taufik, peserta program Paket C di sekolah itu berbagi tugas mengambil ikan Sidat di kolam mengelilingi asrama.

Hewan mirip belut itu jadi menu andalan di warung kuliner mereka. Di sela kesibukan belajar, para kader Brilian biasa berbagi tugas untuk mengelola usaha bersama. Ada yang bertugas merawat kolam dan ikan peliharaan.

Sebagian lain membantu memasak dan menyiapkan hidangan untuk para pelanggan di saung.

"Kalau gak ada kegiatan belajar, bantu-bantu melayani pembeli,"kata Dasro

Ini adalah satu di antara cara mereka belajar membangun kemandirian. Pundi-pundi rupiah yang dihasilkan dari usaha ini diputar untuk membiayai pendidikan mereka hingga lulus perguruan tinggi.

Dasro, Riyadi dan Taufik bersama beberapa kader lain tinggal di asrama gubuk berbahan kayu tua itu. Sementara kader perempuan dititipkan di rumah-rumah penduduk dengan sistem sewa tinggal.

Mereka seluruhnya adalah anak dari orangtua tidak mampu di desa-desa pinggiran hutan, antara lain dari Banyumas, Brebes, Kebumen, Cilacap hingga Purworejo.

Tinggal di asrama reot di tengah kebun sudah barang tentu jadi tantangan bagi mereka. Terlebih di tengah kondisi cuaca ekstrem saat ini. Setiap kali hujan datang bersama angin kencang, yang ada rasa was-was muncul. Risiko air masuk hingga angin menghantam tubuh sudah terlalu biasa.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved