Ini Penyebab Kanker Serviks dan Pencegahannya bagi Perempuan

Adapun tingginya angka penderita kanker itu satu di antara pemicunya karena sering berganti-ganti pasangan.

Ini Penyebab Kanker Serviks dan Pencegahannya bagi Perempuan
tribunjateng/deni setiawan
Direktur Umum RS Ken Saras, dr Adjeg Tarius memaparkan tentang kanker serviks kepada para mahasiswa dalam Kuliah Pakar 2018 Akademi Analisis Kesehatan (AAK) Theresiana di Gedung Sekolah Menengah Umum Theresiana Kota Semarang, Rabu (28/2/2018) sore. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Berdasarkan data WHO pada 2012, tercatat rata-rata sekitar 490 ribu perempuan di dunia didiagnosis menderita kanker serviks atau kanker leher rahim di setiap tahunnya. Dan sekitar 240 ribu di antaranya mereka meninggal dunia.

Dari jumlah itu pula, 80 persen dijumpai di negara-negara berkembang, tak terkecuali di Indonesia.

Adapun tingginya angka penderita kanker itu satu di antara pemicunya karena sering berganti-ganti pasangan.

“Pemicu kanker leher rahim satu di antaranya itu karena sering berganti-ganti pasangan. Itu yang menjadi pemicu kemunculan Human Papillomavirus (HPV) pada perempuan. Bahkan, hampir mereka yang telah berhubungan seksual, berpotensi terkena kanker tersebut,” kata Direktur Umum RS Ken Saras dr Adjeg Tarius.

Hal tersebut satu di antara beberapa informasi yang disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Kuliah Pakar 2018 bertajuk Deteksi Dini dan Risiko Kanker Serviks Uteri yang digelar Akademi Analisis Kesehatan (AAK) Theresiana di Ruang Pertemuan Lantai II Gedung SMU Theresiana Semarang, Rabu (28/2) sore.

“Fungsi utama dari serviks itu adalah sebagai penahan hasil konsepsi saat perempuan atau wanita itu hamil. Namun berkaitan dengan kanker itu sendiri, perlu kami sampaikan. Itu bukanlah suatu penyakit keturunan dan kanker yang paling bisa dicegah,” tandasnya.

Kepada Tribunjateng.com, Rabu (28/2), dr Adjeg mengutarakan, ada beberapa faktor risiko seseorang terkena kanker itu, selain berganti-ganti pasangan. Yakni berhubungan seksual di usia belia, merokok, saat daya tahan tubuh rendah, serta memiliki riwayat penyakit menular seksual.

“Untuk pencegahannya, yakni bisa melalui vaksinasi terlebih mereka yang sudah terkena kanker serviks berjenis HPV. Dari vaksinasi itu, bisa membantu dalam pemberian perlindungan. Dan cukup ideal dilakukan di saat sebelum yang bersangkutan beraktivitas seksual,” ucapnya.

Lalu sebenarnya siapa sajakah yang perlu mendapatkan vaksinasi HPV itu? Pathologist Laboratorium AKURAT itu pun menginformasikan. Yakni mereka kaum perempuan di usia antara 9 hingga 45 tahun. Tujuan dari vaksinasi itu yakni pencegahan sejak dini terhadap berbagai gejala potensi munculnya kanker tersebut.

“HPV itu karakteristiknya cukup resistensi terhadap panas maupun proses pengeringan di leher rahim. Selain itu, transmisi non seksual melalui penggunaan alat-alat pribadi. Kebanyakan infeksi HPV bisa bertahan selama sekitar 8 bulan dan kemudian menghilang,” tambah Dokter RS St Elisabeth Semarang dr Nani Widjaja.

Namun, lanjutnya, tidak serta-merta menghilang begitu saja. HPV tersebut bisa muncul kembali selang sekitar 2 tahun kemudian. Dan sekitar 10 persen di antaranya masih membawa virus yang aktif dalam vagina maupun serviks itu sendiri.

“Perlu dipahami, kebanyakan di antara mereka itu tidak menyadari apabila yang bersangkutan telah terinfeksi HPV, bahkan telah menularkannya. Karena itu, perlu ada deteksi dini sebelum penyakit tersebut berkembang menjadi kanker serviks yang juga menyebabkan kematian itu,” tandasnya.

Terpisah, Pembantu Direktur Bidang Akademik AAK Theresiana Semarang Fransiska Ayuningtyas mengutarakan, kuliah pakar merupakan kegiatan rutin di tiap tahun. Adapun tahun ini yakni mencoba mengupas tentang kanker serviks.

“Terkait kanker, itu adalah satu bidang keilmuan yang dipelajari di AAK Theresiana. Bahkan bidang sitohisto teknologi yang di dalamnya terdapat terkait kanker, merupakan suatu keunggulan tersendiri, yakni deteksi tumor maupun kanker,” jelasnya.

Fransiska menambahkan, dan lebih penting lagi, prevelansi kanker di Indonesia berada di urutan kedua terbesar. Diharapkan melalui kehadiran 2 pakar bidang kanker tersebut, mereka tak sekadar paham sebagai analis, tetapi juga ke depannya dapat turut serta membantu pemerintah dalam mengedukasi kepada masyarakat. (*)

Penulis: deni setiawan
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved