Longsor di Ambarawa, Tiga Rumah Terancam Runtuh
Longsor terjadi di Kampung Pluwang RT 21 Rw 7 Desa Pasekan, Kecamatan Ambarawa, pada Rabu (28/2/2018) pagi sekitar pukul 04.30
Penulis: ponco wiyono | Editor: m nur huda
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Ponco Wiyono
TRIBUNAJATENG.COM, SALATIGA - Longsor terjadi di Kampung Pluwang RT 21 Rw 7 Desa Pasekan, Kecamatan Ambarawa, pada Rabu (28/2/2018) pagi sekitar pukul 04.30.
Tepatnya di tepi jalan yang menghubungkan antara Ambarawa dengan Kecamatan Bandungan.
Warga yang menghuni tiga rumah terancam harus mengungsi, lantaran longsor telah menimpa sisi depan bangunan tempat tinggal mereka.
Aris Setiyono (23), salah satu putra dari pemilik rumah, mengaku khawatir jika rumah orangtuanya terkena longsor susulan.
Menurutnya, sekali lagi hujan turun maka tanah di depan rumah ayahnya, Mujiono, akan amblas beserta bangunan yang berdiri di atasnya.
"Sebenarnya longsor sudah sejak dua hari lalu, namun yang pertama tidak begitu parah. Baru Selasa kemarin ada hujan deras lalu disusul dengan longsor yang lebih besar dan hanya menyisakan tiga meter saja dari bangunan yang paling dekat," katanya di lokasi.
Pantauan Tribunjateng.com, tanah yang longsor tersebut berketinggian lima meter dengan lebar sekitar 50 meter. Jalan menanjak di dekat lokasi membuat warga yang melintas harus berhati-hati jika terjadi longsor susulan.
Mujiono tinggal di rumah beserta istri dan dua anak, serta menantu dan dua cucu. Di sebelah rumah Mujiono, berdiri rumah sang adik yang bernama Rupi.
Rupi tinggal beserta dua anak serta menantu dan kedua cucu. Selain dua keluarga itu, masyarakat sekitar juga terancam tidak bisa melintasi jalan satu-satunya menuju Ambarawa itu.
Sekretaris Desa Pasekan Fajar Ardanta (23) mengatakan, pihak desa sudah menyiapkan talud guna menahan tanah yang masih tersisa, agar tidak runtuh jika sewaktu-waktu terjadi hujan deras.
Pihak pemerintahan desa juga sudah mengantisipasi jika terjadi hal terburuk, dengan menyiapkan tempat pengungsian.
"Balai desa siap menampung jika pada akhirnya rumah itu rubuh. Saat ini kami masih berkoordinasi dengan BPBD untuk mendatangkan eskavator. Semoga pemerintah kabupaten segera turun tangan menangani peristiwa ini," ujarnya.
Aris menambahkan, sebenarnya hunian yang berada di tanah bergerak tersebut juga berdiri di atas tanah urugan. Namun resapan air di sekitar tanah tidak berfungsi optimal, sehingga air yang terkumpul di dalamnya membuat tanah labil hingga terjadi longsor.
"Yang penting ada talud yang berdiri, beruntung kemarin itu ada serumpun pohon bambu yang bisa menahan tanah agar tidak amblas semua,' katanya lagi.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/longsor-ambarawa_20180228_135317.jpg)