Breaking News:

MENGEJUTKAN! Pengakuan Orangtua Siswa SMAN 1 Semarang yang Anaknya Tewas Tenggelam di Kolam Renang

Terkuaknya, dugaan kekerasan dan praktik bulli ini terkuak, seusai Bintang, seorang siswa yang mengikuti LDK meninggal seusai tenggelam

Penulis: yayan isro roziki | Editor: Catur waskito Edy
GOOGLE
Ilustrasi 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - ‎Polemik terkait 'pemindahan secara paksa' dua siswa sekolah menengah atas negeri (SMAN) 1 Semarang belum kunjung usai.

Pihak sekolah mengklaim, sanksi pemindahan dua siswa serta skorsing terhadap tujuh siswa lainnya, sudah setimpal dengan kesalahan yang dilakukan para peserta didik.

"Kami masih memangku mereka, mencarikan tempat mereka untuk melanjutkan studi," kata seorang guru sekolah setempat, Sri Wiyanti, saat menggelar jumpa pers, Jumat (2/3).

Dua siswa yang dipindahkan serta tujuh siswa lainnya, dinilai telah mencoreng nama baik sekolah.

Menurut dia, peristiwa ini menjadi penginggat bagi pihak terkait, bahwa pendidikan bukan hanya tanggunggjawab sekolah.

Melainkan menjadi tanggungjawab bersama.

"Pendidikan terhadap anak menjadi tanggungjawab bersama, jangan semua ditimpakan ke sekolah," ujarnya.

Pemindahan dua siswa dan skorsing terhadap tujuh siswa lainnya, tak bisa dilepaskan dari dugaan terjadinya praktik bully dan kekerasan para senior terhadap para junior, dalam proses pembinaan latihan dasar kepemimpinan (LDK) organisasi siswa intra sekolah (Osis).

Terkuaknya, dugaan kekerasan dan praktik bulli ini terkuak, seusai Bintang, seorang siswa yang mengikuti LDK meninggal seusai tenggelam di kolam renang Jatidiri, pada (7/1) silam.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved