Breaking News:

Dewan Kehormatan PGRI Jateng Minta Kepsek SMAN 1 Semarang Tangguhkan Keluarkan Dua Siswanya

Dewan Kehormatan Guru Indonesia (DKGI) PGRI Provinsi Jawa Tengah menyayangkan dikeluarkannya dua siswa SMAN 1 Semarang

Penulis: m zaenal arifin | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG/DANIEL ARI PURNOMO
MENGHADAP - Muhammad Afif Ashor dan Anindya Puspita Helga Nur Fadhila akan menghadap Sekda Provinsi Jateng di Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Kamis (1/3/2018) siang. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dewan Kehormatan Guru Indonesia (DKGI) PGRI Provinsi Jawa Tengah menyayangkan dikeluarkannya dua siswa SMAN 1 Semarang, Anindya Puspita Helga Nur Fadhila dan Muhammad Afif Ashor.

Ketua DKGI PGRI Provinsi Jawa Tengah, Sudharto mengatakan, kasus ini berbuntut panjang dan membuat gaduh. Terlebih, keputusan pihak sekolah diambil tanpa mempertimbangkan dampak psikologis siswa.

Sehingga keputusan mengeluarkan dua siswa yang sebentar lagi menghadapi ujian nasional (UN) itu bukanlah keputusan yang bijak.

"Mestinya sebagai seorang pendidik bekerja menggunakan prinsip keprofesionalan. Yang namanya profesional itu adalah bekerja demi orang lain. Nah, orang lain itu adalah peserta didik yang kebetulan sebentar lagi menghadapi ujian. Dia sudah mempersiapkan lama," kata Sudharto, Minggu (4/3).

Karena itu, ia meminta kasus ini dihentikan dulu. Bahkan jika ada beberapa pihak berwenang, baik sekolah maupun Dinas Pendidikan Provinsi Jateng, Ombudsman dan lainnya mau melakukan penyelidikan mengenai kasus tersebut, juga diminta untuk dihentikan dulu.

"Hentikan. Jadi, lingkungan sekolah, kepala sekolah, guru, siswa, lingkungan belajar mengajar, jangan malah dibuat gaduh. Sudahlah, berhenti. Biarkan anak-anak ini menyelesaikan tugas belajarnya dulu," pintanya.

Sebagai guru, lanjutnya, semestinya memiliki prinsip ketika menghadapi persoalan peserta didik atau siswa. Seharusnya, guru menitikberarkan pada kepentingan peserta didik.

"Guru itu dulu kan melamar (pekerjaan), setelah memenuhi syarat seleksi, kemudian diangkat dan melaksanakan tugas pokok dan fungsi. Kemudian memeroleh penghargaan. Jadi, seharusnya berpikir apakah tindakan sekolah berdampak negatif atau tidak," paparnya.

Terlepas dari salah atau tidaknya kedua siswa yang dikeluarkan, menurut Sudharto, seharusnya pihak sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah memiliki kearifan untuk menangguhkan keputusan mengeluarkan kedua siswa itu.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved