Rejeki Pancing Sedia Joran Mulai Rp 100 Ribu
Untuk memancing tradisional, yang membedakan adalah joran dan reel yang digunakan terbuat dari kayu atau bambu
Penulis: muh radlis | Editor: muslimah
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Radlis
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Memancing tidak lagi identik dengan kegiatan nelayan mencari ikan. Kegiatan satu ini sekarang sudah beralih menjadi sebuah kegemaran atau hobby.
Di berbagai penjuru tanah air, bertebaran komunitas pemancing.
Mulai dari memancing di sungai, tambak, danau, rawa, hingga ke laut.
Tentunya selain tetap mencari ikan untuk dibawa pulang ke rumah, para pemancing atau yang akrab disapa angler ini juga menerapkan metode catch and release untuk beberapa jenis ikan.
Ikan yang lambat pertumbuhan dan minim populasinya akan kembali dilepaskan ke habitatnya untuk menjaga kelangsungan populasi ikan tersebut.
Untuk bisa menyalurkan kegemaran memancing, tentunya angler harus memiliki peralatannya seperti joran (tongkat), reel (penggulung), senar, hook (mata pancing) dan beberapa peralatan lainnya.
Owner Rejeki Pancing, Tanah Mas, Kota Semarang, Rio Hermawan, mengatakan, memancing bisa dikategorikan menjadi dua jenis sesuai alat yang digunakan.
"Mancing tradisional dan modern," kata Rio.
Untuk memancing tradisional, yang membedakan adalah joran dan reel yang digunakan terbuat dari kayu atau bambu.
"Cara menggunakannya pun beda. Tangan kanan memegang joran sementara tangan kiri memegang gulungan yang posisinya terpisah dari joran," katanya.
Sementara untuk mancing modern, alat yang digunakan disesuaikan dengan lokasi memancing serta target ikan yang akan dipancing.
Material joran saat ini terbagi dua, ada yang terbuat dari fiber ada juga yang terbuat dari karbon.
"Modelnya ada dua, one piece dan two piece. One piece ini joran tersambung dari atas sampai bawah, sementara two piece bisa dipisah. Ada juga yang model antena tapi peminatnya sekarang sudah jarang," katanya.
Hal mendasar yang membedakan dua jenis joran itu adalah kekuatan dan besar.
Menurut Rio, joran karbon jauh lebih kecil namun memiliki kekuatan lebih dibanding joran berbahan fiber.
"Kalau karbon kecil tapi kuat. Karbon lebih ringan," katanya.
Rio mencontohkan, joran fiber sebesar jempol tangan orang dewasa setara dengan kekuatan joran karbon yang hanya sebesar sebatang rokok.
Pilihan joran pun beragam sesuai selera penggunanya.
Ada yang membeli satu set langsung, ada juga yang membeli secara terpisah.
"Kalau mancing tradisional Rp 50 ribu sudah dapat satu set sementara mancing modern Rp 100 ribu sudah bisa bawa pulang satu set. Itu kualitas paling rendah," kata Rio.
Untuk joran yang beredar di pasaran Kota Semarang, Rio mengatakan ada beberapa merk yang menjadi idaman para angler.
"Saat ini merk Shimano yang punya harga paling tinggi. Bisa sampai puluhan juta. Tapi yang standar juga banyak, ada Viver Venom, Pioner, Maguro, Daido, Abu Garcia. Harganya kisaran Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta," katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/mancing_20180309_165013.jpg)