LIPUTAN KHUSUS

GEGER Ikuti Pemilihan Kepala Dusun saja, 'Uang Syarat' Sampai Puluhan Juta

Seorang pria bernama Suwandi (39), menjadi bahan perbincangan hangat usai melaporkan dugaan adanya pungutan liar (pungli)

GEGER Ikuti Pemilihan Kepala Dusun saja, 'Uang Syarat' Sampai Puluhan Juta
tribunjateng/dok
ilustrasi uang suap 

TRIBUNJATENG.COM, PURWOREJO - Seorang pria bernama Suwandi (39), menjadi bahan perbincangan hangat usai melaporkan dugaan adanya pungutan liar (pungli) dalam seleksi kepala dusun (kadus) di desanya kepada Gubernur Jateng non-aktif, Ganjar Pranowo.

Tribun Jateng menyambangi rumah Suwandi di Desa Kaligesing, Kutoarjo, Purworejo, Jumat (9/3), untuk menanyakan lebih lanjut masalah itu. Kediamannya berada di pojokan desa setempat, berjarak sekitar 2 Km dari jalan raya.

Istri Suwandi yang sedang duduk lesehan di teras seraya berbincang dengan seorang tetangga samping rumah terlihat bingung dengan kedatangan Tribun Jateng. Ia mengatakan suaminya baru saja keluar rumah karena ada orderan menebang pohon.

Wanita berbadan kurus itu kemudian memberikan sebuah nomor telepon. Ketika dihubungi, Suwandi belum melaju jauh dari rumah, sehingga ia bersedia kembali ke rumah untuk menemui Tribun Jateng.

================================
*) Suwandi dimintai uang untuk menjadi peserta dalam pilkadus sebesar Rp 25 juta. *) Permintaan itu disampaikan Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) setempat.
*) Awalnya, Suwandi diminta oleh Ketua BPD untuk membayar uang muka Rp 3 juta. Tetapi setelah menemui lurah justru permintaan uang muka bertambah menjadi Rp 10 juta.
*) Pesaing Suwandi dalam pilkadus, Aris, juga mengetahui adanya permintaan uang itu. Ia mengetahui hal itu karena telah menjadi perbincangan hangat di desanya.
================================

Lima menit kemudian, dari kejauhan terlihat sebuah sepeda motor melaju pelan hingga akhirnya parkir persis di halaman depan rumah. Seorang pengendara yang ternyata Suwandi lantas mempersilakan Tribun Jateng masuk ke dalam rumah.

Peralatan perangnya sebagai penebang pohon seperti gergaji mesin, botol berisi bahan bakar, hingga tali tambang masih dibiarkan menempel di sepeda motornya.

"Silakan masuk, ini rumah saya, tapi bukan milik saya. Karena saya cuma suruh menempati rumah milik seseorang yang masih saudara. Maaf kalau tempatnya berantakan," kata Suwandi membuka obrolan siang itu.

Ia kemudian menceritakan kisahnya dipungut biaya puluhan juta saat maju sebagai calon kadus. Hal itu terjadi sebulan lalu, ketika Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) setempat datang ke rumahnya.

Kedatangan Ketua BPD itu untuk menanyakan apakah dirinya jadi maju sebagai calon kadus 5 di desa itu, setelah sebelumnya mendapat informasi dari lurah bahwa Suwandi berencana maju sebagai calon kadus.

Halaman
1234
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved