Kenapa Besaran Biaya Bulanan Siswa Tiap SMA Berbeda-Beda? Ini Penjelasan Wiharto

Masih banyaknya keluhan, pertanyaan yang masuk dari orangtua siswa kepada pihak sekolah terkait besaran biaya bulanan siswa berbeda

Kenapa Besaran Biaya Bulanan Siswa Tiap SMA Berbeda-Beda? Ini Penjelasan Wiharto
deni setiawan
Puluhan siswa SMA Negeri 3 Semarang sedang menjalani proses belajar-mengajar di ruang laboratorium sekolah yang berada di Jalan Pemuda Nomor 149 Kota Semarang itu, Rabu (14/3/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Masih banyaknya keluhan, pertanyaan yang masuk dari orangtua siswa kepada pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jawa Tengah terkait besaran biaya bulanan siswa berbeda antara SMA satu dengan lainnya,  Wiharto, mewakili seluruh kepala sekolah tingkat SMA se Kota Semarang mencoba memberikan penjelasan.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kota Semarang itu pun membeberkan teknis cara penghitungan dalam penentuan besaran dana peran serta masyarakat (PSM) yang dibebankan orangtua siswa di tiap bulan, melalui Tribunjateng.com, Rabu (14/3/2018).

Kepada Tribunjateng.com, Rabu (14/3/2018), Wiharto mencontohkan yang berlaku pada sekolahnya, di SMA Negeri 3 Jalan Pemuda Nomor 149 Kota Semarang itu.

Ketika sebelum adanya instruksi review hasil Rencana Kerja Anggaran Sekolah (RKAS) Tahun Pelajaran 2017/2018, dana tarikan bulanan itu adalah Rp 150 ribu per siswa, per bulan.

"Setelah direview, bersamaan digelontorkannya dana Biaya Operasional Penyelenggaraan (BOP) Pendidikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada tahun ini, menjadi hanya Rp 105 ribu per siswa, per bulan," jelasnya.

Dia mengurai, diperolehnya nilai nominal tersebut berasal dari hasil selisih atau kekurangan biaya operasional yang harus dipenuhi pihak SMA Negeri 3 Semarang dengan jumlah yang diterima.

"BOP Pendidikan yang kami terima dari Pemprov Jateng tahun ini sebesar Rp 765 ribu per tahun, per siswa. Adapun jumlah siswa yang menerima, yang disesuaikan pada database Pemprov Jateng pada September 2017 yakni sebanyak 1.418 siswa," jelasnya.

Selain BOP Pendidikan untuk siswa, lanjutnya, tiap sekolah juga memperoleh BOP Pendidikan Honor Guru Tidak Tetap dan Pegawai Tidak Tetap (GTT PTT). Di SMA Negeri 3 Semarang BOP Pendidikan GTT total sekitar Rp 327.756.000.

"Itu hanya didistribusikan untuk 11 guru. Padahal di sini, kami ada sekitar 19 orang. Lalu jumlah pegawai tidak tetap (PTT) di sekolah kami ada 21 orang. Namun BOP Pendidikan honor PTT yang diterima hanya sekitar Rp 403.200.000 untuk 14 orang," jelasnya.

Selanjutnya, papar Wiharto, besaran Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari Pemerintah Pusat yang diterimanya ada sekitar RP 1,4 juta per siswa, per tahun. Sehingga apabila ditotal mencapai Rp 1.985.200.000 pada 2018 ini.

"Jadi jumlah dana yang kami terima baik BOP Pendidikan maupun BOS adalah sekitar Rp 3.800.926.000. Padahal sesuai RKAS kami, total biaya operasional pendidikan yang harus dikeluarkan mencapai Rp 5.587.606.000. Jadi masih ada kekurangan mencapai Rp 1.786.680.000," papar Wiharto.

Dari perhitungan itu, ungkapnya, kekurangan biaya operasional pendidikan di sekolah tersebut yang kemudian ditanggung para orangtua siswa mampu tersebut adalah Rp 1.786.680.000 dibagi 1.418 siswa menjadi Rp 1.260.000 per tahun.

"Lalu dibagi 12 bulan sehingga hasilnya adalah Rp 105 ribu per siswa, per bulan. Di tiap sekolah, teknis menghitungnya sama. Yang membedakan di sini adalah besaran dana yang diterima dan jumlah operasional pendidikan yang dikeluarkan," bebernya. (*)

Penulis: deni setiawan
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved