Liputan Khusus

Fintech Cocok dan Nyaman bagi Kids Zaman Now

Fintech Cocok dan Nyaman bagi Kids Zaman Now. News Analysis oleh Erman Denny Arfinto - Ekonom Undip

Fintech Cocok dan Nyaman bagi Kids Zaman Now
tribunjateng/cetak/ist
News analysis oleh Erman Denny Arfinto-Ekonom Undip 

News Analysis oleh Erman Denny Arfinto - Ekonom Undip

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Fintech termasuk di dalamnya blockchain, cryptocurrency, dan financial big data adalah bagian dari dinamika bisnis yang kita kenal sebagai disruptive business environment.

Menurut Schwab (2017) Revolusi Industri 4.0 membuat sebuah megatrends di mana digitalisasi dan artificial intelligence akan banyak mempengaruhi tatanan sosial dan mendorong banyak perubahan.

Dampaknya bagi sektor keuangan mengakibatkan perubahan proses bisnis menjadi lebih cepat dan masif, degan transaksi dalam milidetik dan melibatkan big data.

Bagi masyarakat, ini menjadi peluang karena efisiensi dalam bertransaksi, kemudahan dalam berkegiatan ekonomi, apalagi bagi masyarakat Indonesia yang mempunyai kelas menengah yang baru tumbuh dan tidak lama lagi menerima bonus demografi.

Bagi kids zaman now yang melek teknologi dan aktif menggunakan media sosial, tentunya Fintech akan memudahkan mereka dalam mendapatkan layanan keuangan.
Tetapi di balik opportunity pasti ada risiko di sisi yang lain, seperti masalah cyber security, data privacy, money laundering, dan transaksi tidak sah.

Sementara risiko dari sisi provider adalah maturity mismatch, liquidity mismatch, dan rasio leverage yang tinggi. Ini bisa membahayakan sektor keuangan.

Membatasi atau mengendalikan fintech jelas bukan hal yang bijaksana, justru BI dan OJK harus mampu untuk menangkap peluang ini untuk membuat layanan keuangan bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat (financial inclusion).

Hal itu mengingat fintech meningkatkan akses jasa keuangan sampai pelosok dan meningkatkan efisiensi layanan jasa keuangan, baik secara cost maupun speed of delivery.
Fintech membuat sektor keuangan semakin terdiversifikasi dan terdesentralisasi, sehingga bisa meminimalkan guncangan sistemik akibat “too big”.

Fintech itu user friendly bagi kids zaman now, sehingga membuat mereka nyaman menggunakan jasa keuangan. Hal ini bisa meningkatkan financial inclusion, dan harapannya bisa meningkatkan kapasitas perekonomian dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Regulator harus adaptif dengan perubahan ini, dan bagaimana bisa membuat sinergi dan kolaborasi dengan jasa keuangan tradisional.

OJK sebenarnya sudah mengatur Fintech dengan POJK No. 77 tahun 2016 yang mengatur tentang Fintech. Tetapi regulator harus bisa memastikan stabilitas sektor keuangan agar dinamika fintech tidak menimbulkan dampak yang tidak diharapkan.

Regulasi yang adaptif tetap harus ada, bukan regulasi yang melarang atau membatasi.
Tentunya governance perlu mengarahkan proses disrupsi ke arah lingkungan bisnis yang sehat dan tidak mengganggu stabilitas perekonomian itu tetap penting.

Manajemen risiko juga tetap harus dilakukan. Sehingga otoritas tetap harus mengumumkan jasa keuangan yang bodong dan melanggar aturan. (tribunjateng/lipsus/cetak)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved