Rabu, 22 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

KISAH Slamet Sang Penakluk Ular, Pernah Tangkap 16 Ekor dalam Dua Malam

KISAH Slamet Sang Penakluk Ular, Pernah Tangkap 16 Ekor dalam Dua Malam. Dia gabung Komunitas Semarangker

Penulis: Akhtur Gumilang | Editor: iswidodo
tribunjateng/Akhtur Gumilang
KISAH Slamet Sang Penakluk Ular, Pernah Tangkap 16 Ekor dalam Dua Malam 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Akhtur Gumilang

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Menangkap dan memelihara ular liar adalah pekerjaan yang dilakukan oleh sosok yang satu ini.

Ya, dia adalah Slamet Wisnu Aji yang kini aktif sebagai Wakil Ketua Komunitas Semarangker.

komunitas Semarangker tunjukkan ular hasil tangkapan
komunitas Semarangker tunjukkan ular hasil tangkapan (tribunjateng/akhtur)

Perlu diketahui, Slamet memulai aktivitasnya menjinakkan ular sejak masih kecil.

Kemudian tahun 2015 lau, ia ikut bergabung di komunitas pecinta alam dan satwa (Kapas) untuk mempelajari seluk-beluk penanganan ular berbagai jenis.

Slamet sudah cukup memahami seluk beluk ular, mulai dari penanganannya hingga kehidupan habitatnya.

Aktivitas Slamet selalu tak jauh-jauh bersinggungan dengan hewan melata tersebut.

Ia mengaku sudah ratusan kali menangkap ular.

HEBOH Ada ular piton besar di sumur rumah warga Jalan Wonodri Krajan II No. 9 RT 4 RW 1, Wonodri, Semarang Selatan, Kota Semarang, Selasa (20/3/2018) pagi.
HEBOH Ada ular piton besar di sumur rumah warga Jalan Wonodri Krajan II No. 9 RT 4 RW 1, Wonodri, Semarang Selatan, Kota Semarang, Selasa (20/3/2018) pagi. (tribunjateng/Akhtur Gumilang)

Dari pengalamannya, dirinya mampu mengamankan 16 ekor hanya dalam dua malam.

"Saya pernah menangkap piton sepanjang 6 meter yang saat itu melintas di jalan raya depan Akpol, Gajahmungkur," ujar Slamet saat ditemui Tribunjateng.com, di Markasnya, Kampung Lamper Tengah, Semarang Selatan, Semarang.

Ia pun memberi tips kepada warga supaya tidak panik saat menangkap ular.

Jika ukurannya besar, seekor ular harus ditangkap pada bagian ekornya.

"Mainkan dulu ekornya. Kalau sudah tenang, baru tangkap kepalanya lalu ditutup pakai lakban. Jika jenis piton, lepaskan lilitannya setelah dilakban," lanjut Slamet.

Wakil Ketua Komunitas Semarangker, Slamet Wisnu Aji (kanan, memakai ikat kepala) saat ditemui Tribunjateng.com di Markasnya, Kampung Lamper Tengah, Semarang Selatan, Semarang, Rabu (21/3/2018).
Wakil Ketua Komunitas Semarangker, Slamet Wisnu Aji (kanan, memakai ikat kepala) saat ditemui Tribunjateng.com di Markasnya, Kampung Lamper Tengah, Semarang Selatan, Semarang, Rabu (21/3/2018). (akhtur gumilang)

Dalam menangani ular, ia selalu membawa grapstik untuk menjinakkan ular piton ataupun jenis ular berbisa.

Tak hanya itu, dia juga tak lupa membawa karung, lakban, grapstick.

"Satu lagi yang patut diperhatikan, kita harus pakai sepatu sebagai pelindung kaki saat di semak belukar," imbuhnya.

Terkait komunitasnya yang bernama Semarangker, Ia menyebut saat ini anggotanya telah menyimpan empat piton dan seekor ular hijau.

Menurutnya, ular-ular tersebut untuk dijadikan alat sosialisasi bagi anak-anak sekolah.

"Tetapi, ada pula ular yang diserahkan ke kebun binatang dan ada yang disimpan sebagai alat edukasi bagi anak sekolah serta masyarakat sekitar," tandasnya.

Jika takut menghadapi ular, ia pun menyarankan agar secepatnya melaporkan penemuan ular kepada pihaknya.

"Bisa langsung lapor ke Markas Semarangker di kawasan Lamper Tengah, dekat kantor Polsek Semarang Selatan. Atau hubungi saya di nomer 087700499919," tambahnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved