Inilah Alpukat Wina Bandungan, Jadi Primadona
Wina, nama jenis alpukat itu kini banyak dicari karena tekstur buahnya yang komplit, berukuran besar, berdaging tebal dan berasa gurih.
Penulis: ponco wiyono | Editor: galih permadi
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Ponco Wiyono
TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Tak ada yang menyangka jika salah satu tanaman alpukat yang tumbuh di sebuah kebun di Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang pada awal 2000-an silam akan menjadi primadona.
Wina, nama jenis alpukat itu kini banyak dicari karena tekstur buahnya yang komplit, berukuran besar, berdaging tebal dan berasa gurih.
Salah satu petani alpukat wina di Desa Jetis, M Saryono (51), mengatakan permintaan yang melimpah kini masih terganjal dengan terbatasnya stok buah.
Saryono merupakan dosen mata kuliah pendidikan agama Islam di salah satu kampus swasta di Kabupaten Semarang yang banting setir menjadi petani alpukat.
Alasannya sepele, tanah di tempat tinggalnya subur dan sayang jika tidak dimanfaatkan. Kini Saryono menjadi "proyek percontohan" bagi warga sekitar, yang belakangan menunjukkan antusiasmenya dengan ikut-ikutan menanam alpukat.
"Dulu alpukat itu buah terpinggirkan. Saat pohon alpukat wina generasi pertama berbuah bagus, kawan saya bernama Turmanto kemudian mencoba praktek menyambung pucuk beberapa pohon dan berhasil. Salah tanamannya ada di depan itu," uja Saryono sambil menunjuk sebatang pohon alpukat wina berusia 16 tahun di depan rumahnya.
Ciri-ciri fisik alpukat wina sebenarnya mudah diidentifikasi, antara lain bentuk buah membulat, daging berwarna kuning dan tanpa serat serta lebih pulen. Untuk namanya sendiri, dikatakan Saryono diambil dari nama hotel yang dekat dengan kebun tumbuhnya alpukat wina generasi pertama.
"Pohonnya dibiarkan mati karena dulu kami tidak tahu buahnya bakal menjadi booming seperti sekarang," ungkapnya.
Menurut Ketua Asosiasi Petani Alpukat Wina Berkah Jaya ini, berbisnis alpukat wina juga terasa gurih di kantong. Betapa tidak, satu biji alpukat wina rata-rata memiliki berat 800 gram.
Bobot tersebut bisa bertambah jika buah dibiarkan lebih lama di pohon dan Saryono menyebutkan alpukat wina tak mudah membusuk meski dibiarkan menggantung pada tangkainya.
"Itu kelebihan jenis wina ini, saat dipetik di usia muda tak mudah matang, saat dibiarkan sampai tujuh bulan pun buahnya masih kokoh pada tangkai. Beda dengan alpukat jenis biasa yang jika sudah matang di pohon biasanya jatuh sendiri," jelasnya.
Untuk buah berukuran paling besar, Saryono menyebutkan ia pernah mencatat angka seberat dua kilogram. Rekor lain adalah buah seberat 1,8 kilo dan ketebalan dagingnya mencapai tiga sentimeter.
Sedangkan untuk panen pada satu pohon yang dihitung menyeluruh sepanjang tahun, Saryono mengaku rata-rata ia memanen hingga satu ton.
Hasil penjualan buah sebanyak itu disebut Saryono cukup untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya. Tidak hanya menjadi buah bibir di pasar, alpukat wina pun berulang kali memenangi kontes buah, salah satunya yang terakhir yakni juara III Kontes Calon Varietas Buah alpukat tahun 2016.
"Saking seringnya mendapat apresiasi sampai saya sempat bawa buah yang bukan unggulan karena biar peserta lain merasakan menang juga," tuturnya.
Moncernya budidaya alpukat wina pun terasa hingga ke wilayah lain di Kabupaten Semarang. Bendara Berkah Jaya, Surjanto, mengatakan secara keseluruhan hingga kini terdapat 25 ribu pohon alpukat wina di kabupaten tersebut. Dari jumlah sebanyak itu tiga ribu di antaranya sudah bisa diandalkan untuk memproduksi buah.
Namun demikian, petani tetap saja kewalahan dengan permintaan pasar yang semakin hari semakin meningkat.
"Setiap petani sudah memiliki pembeli tetap sendiri yang tersebar di seluruh Jawa dan Kalimantan. Saya berulang kali ditawari untuk mensuplai Singapura dan Malaysia namun tidak bisa karena memang perlu stok yang sangat besar dan berkelanjutan," urainya.
Mengenai perhatian pemerintah sendiri Saryono mengatakan sejauh ini sudah baik. Beberapa kali pemerintah daerah membeli bibit-bibit tanaman alpukat wina dari asosiasinya untuk disumbangkan kepada petani di kecamatan lain.
Saat ini, Saryono melanjutkan, yang diperlukan adalah membangun sistem agar budidaya alpukat wina ini bisa semakin digemari dan stok buah semakin memadai untuk memenuhi kebutuhan pasar.
"Kalau satu pohon bisa panen satu ton dan itu sudah melimpah hasilnya, bagaimana jika ada 70 ribu ton yang dipanen. Itu jangka panjangnya, yang penting sekarang masyarakat suka dulu untuk menanamnya. Di Gunungpati juga sudah saya galakkan untuk beberapa kebun, sebab masyarakat itu perlu contoh langsung," kata Saryono.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/saryono-menunjukkan-tekstur-alpukat-wina-pada-pekan-lalu_20180325_172542.jpg)