Breaking News:

Prihatin, Ternyata Belum Pernah Ada Pelatihan Tembang Macapat untuk Guru Bahasa Jawa

Harapan peserta, pada masa mendatang ada pelatihan khusus tembang macapat untuk para guru, bahkan seniman.

Penulis: arief novianto | Editor: m nur huda
Istimewa
Pelatihan Dasar dan Bedah Tembang Macapat yang digelar Padepokan Cakra Latifah, Yayasan Kartini Indonesia dan Yayasan Damai Bagi Negeri, Minggu (25/3/2018), di Padepokan Cakra Latifah Banjaragung, Bangsri, Jepara. 

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Walaupun di semua jenjang sekolah di Jawa Tengah telah ada pelajaran bahasa Jawa dan di dalamnya ada pelajaran tembang macapat, tidak semua sekolah memiliki guru yang dapat mengajarkan tembang itu secara lengkap dan benar.

Hal itu baik menyangkut guru lagu, guru gatra maupun guru wilangan. Apalagi menjelaskan isi tembang tersebut kepada para siswa.

Sebab, tembang macapat sebagai karya sastra Jawa yang sangat kaya dan memiliki 11 bentuk lagu atau metrum, masing-masing memiliki cara penulisan dan cara melantunkan tembang yang berbeda-beda.

Tembang-tembang macapat itu mulai Mijil, Maskumambang, Kinanthi, Sinom, Asmaradana, Gambuh, Dhandanggula, Durma, Pangkur, Megatruh, dan Pucung.

“Tiap jenis tembang memiliki cengkok yang berbeda. Selain itu, syair tembang tersebut sarat dengan nasihat-nesihat luhur,” ujar seniman Jawa, Dalana, dalam Pelatihan Dasar dan Bedah Tembang Macapat yang digelar Padepokan Cakra Latifah, Yayasan Kartini Indonesia dan Yayasan Damai Bagi Negeri, Minggu (25/3/2018), di Padepokan Cakra Latifah Banjaragung, Bangsri, Jepara.

Kegiatan itu sekaligus untuk menjawab kegelisahan para guru. Sebab selama ini tidak ada pelatihan khusus tembang macapat untuk para guru.

Harapan peserta, pada masa mendatang ada pelatihan khusus tembang macapat untuk para guru, bahkan seniman.

Mantan Bupati Jepara, Hendro Martojo yang juga hadir dalam acara itu mengungkapkan, dalam sebuah sekar macapat, ada banyak pesan dan nasehat yang diungkapkan dengan lambang-lambang. Karena tembang macapat adalah karya sastra Jawa yang dinyanyikan.

"Karena itu para guru harus mendapatkan bekal agar mampu menransfer nilai-nilai luhur itu dalam bahasa kekinian yang dengan mudah dipahami para siswa,” jelasnya.

Hendro di sela sambutannya sempat melantunkan tembang Dhandanggula dan Pangkur. Sementara bedah tembang macapat dilakukan Romo Suyana Wignya Wibawa. Seniman sepuh berusia 82 tahun itu membedah tiga tembang, yaitu Mijil, Dhandanggula, dan Pucung.

Pada akhir pelatihan dan bedah tembang macapat juga ditampilkan pagelaran wayang kulit pakeliran padat oleh Ki Dalang Sholeh Ronggo Warsito, dengan cerita Kresna Malangan Dewa.

Ketua Padepokan Cakra Latifah, Ki Hendro Surya Kartiko menuturkan, padepokan yang didirikan pada 2012 itu bertujuan melestarikan seni budaya Jawa.

“Harapan kami seni budaya bangsa dapat menjadi pilar dan sekaligus benteng karakter bangsa” tandasnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved