Senin, 20 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

PKL Alun-alun Kota Pekalongan Siap Pindah, 'Kalau Kami Slow'

rencana Pemkot membersihkan alun-alun dari Pedagang Kaki Lima (PK5) hanya wacana yang tidak akan pernah terealisasikan.

Penulis: budi susanto | Editor: galih permadi
TRIBUN JATENG/BUDI SUSANTO
Lokasi Alun-alun Kota Pekalongan dipenuhi lapak pedagang semi permanen, Kamis (29/3/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Budi Susanto

TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Rencana Pemkot Pekalongan membersihkan alun-alun dari Pedagang Kaki Lima (PKL) guna menciptakan ruang publik yang nyaman bagi masyarakat mendapat tanggapan dari pedagang, Kamis (29/3/2018).

Para pedagang yang sudah menempati pinggiran alun-alun menganggap rencana Pemkot hanya wacana yang tidak akan pernah terealisasikan.

Hal tersebut diterangkan Siti Khotimah satu di antara pedagang makanan yang sudah berdagang hampir empat tahun di kawasan alun-alun Kota Pekalongan.

Diterangkanya, wacana tersebut pernah disosialisasikan kepada pedagang agar pindah ke Jalan KH Wahid Hasim namun hingga kini belum juga ada tindakan.

"Kalau kami slow mas, nyatanya tidak ada gerakan sama sekali dari pemerintah, ya kalau jadi pindah kalau tidak terus kami sudah bersiap nanti malah tempat dagang kami ditempati orang lain," ujarnya.

Ia menerangkan selain biaya murah bisa berdagang di sekitar alun-alun pembeli juga lumayan banyak.

"Untuk listrik saya hanya membayar Rp 3 ribu, nah coba kalau pindah pasti lebih mahal, dan jika lokasi di Jalan KH Wahid Hasim apa Pemkot tidak berpikir lokasi tersebut cukup untuk puluhan pedagang yang berjualan di kawasan alun-alun," paparnya.

Pihaknya tak menolak jika dipindah namun dengan syarat lokasi tersebut lebih menjanjikan.

"Kalau berani beri kami kepastian lokasi pindah ramai dan lebih bersih, jangan hanya sosialisasi bertahun-tahun sosialisasi juga tidak ada tindakan," imbuhnya.

Walaupun demikian Siti menuturkan lokasi yang ia gunakan untuk berdagang tak layak lagi karena kumuh.

"Berserakan semua, terkesan kumuh, tapi mau bagaimana lagi kalau tidak dagang anak kami makan apa, ya kami hanya bisa bertahan," terangnya.(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved