Warga Masih BAB di Pinggir Sungai

Selain mendorong warga hidup lebih sehat, WC komunal ini bisa menjadi sumber energi biogas.

Warga Masih BAB di Pinggir Sungai
TRIBUN JATENG/RAHDYAN TRIJOKO PAMUNGKAS
LPU BPA Akan Bangun WC Komunal Dengan Reaktor Biogas Di Tambak Lorok 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Slamet Riyanto, ketua RW 15 Tambaklorok, Kelurahan Banarharjo, Kecamatan Semarang Utara, senang dibangun WC komunal di wilayahnya.

Selain mendorong warga hidup lebih sehat, WC komunal ini bisa menjadi sumber energi biogas.

"Masih banyak warga kami yang buang air besar (BAB) di pinggir sungai. Biasanya, mereka nongkrong (buang hajat) sambil ngobrol. Kami berharap, keberadaan WC komunal ini bisa mengubah perilaku mereka sehingga kesopanan bisa terjaga," kata Slamet di Rumah Apung Tambaklorok, Rabu (28/3/2018).

Menurut Slamet, sekitar 40 persen rumah tangga di wilayahnya tak memiliki kamar mandi dan WC pribadi. Di RW 15, ada sekitar 4.000 kepala keluarga (KK). Untuk kebutuhan mandi cuci dan kakus (MCK), mereka melakukan di pinggir sungai. RW 15 merupakan wilayah dekat sandaran kapal nelayan.

Sebenarnya, ada WC komunal di wilayah tersebut. Hanya, tak banyak warga yang memanfaatkan lantaran pembangunan dan keberadaannya kurang disosialisasikan.

"Tiba-tiba, ada WC komunal di tengah kampung. Dari pertama berdiri hingga sekarang, tidak berjalan lagi dan macet. Ada juga WC berbasis biogas bantuan dari pemerintah pusat tapi hanya berjalan satu bulan," ujarnya.

Rencananya, Lembaga Pendamping Usaha Buruh Petani Nelayan (LPU BPA) membangun lagi satu WC komunal di wilayah tersebut. Proyek yang merupakan bagian dari Kafein Project ini disampaikan dalam sosialisasi di Rumah Apung Tambaklorok, Rabu. WC komunal yang dibangun, berbasis biogas untuk energi gas dan listrik. Pembangunan dimulai sebelum Lebaran 2018.

"Kenapa kami membangun WC komunal? Karena persoalan sampah menjadi masalah utama, terlebih kotoran manusia. WC di sini (Tambaklorok) rata-rata WC cemplung yang terletak di pinggir sungai," ungkap Sekertaris LPU BPA, Isti Sumiwi, di sela sosialisasi.

Menurut Isti, kebiasaan ini sering kali menimbulkan persoalan. Apalagi, Tambaklorok merupakan wilayah rob. Saat banjir atau terjadi genangan akibat pasang air laut, kotoran manusia menyebar kemana-mana. Hal ini dapat mengganggu kesehatan warga.

"Kami berharap, pembuatan WC komunal ini dapat mengubah kebiasaan warga. Jika ingin buang air besar dan kecil, ya di WC," tuturnya.

Halaman
12
Penulis: rahdyan trijoko pamungkas
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved