Mahasiswa USM Belajar Bahasa Esperanto Sebagai Bahasa Internasional Kedua

Tak hanya memiliki ratusan suku, Negara Indonesi‎a juga mempunyai beragam bahasa.

Mahasiswa USM Belajar Bahasa Esperanto Sebagai Bahasa Internasional Kedua
TRIBUN JATENG/RAKA F PUJANGGA
Prof Heidi Goes, Ph.D (kanan) menerima cinderamata setelah mengenalkan bahasa Esperanto kepada mahasiswa Fakultas Ekonomi USM, Kamis (5/4/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Raka F Pujangga

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tak hanya memiliki ratusan suku, Negara Indonesi‎a juga mempunyai beragam bahasa.

Namun, kali ini Prof Heidi Goes, Ph.D mengenalkan bahasa Esperanto kepada mahasiswa Fakultas Ekonomi USM, Kamis (5/4/2018).

Sedikitnya 90 mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Semarang (USM) belajar bahasa Esperanto.

Guru besar sekaligus peneliti dari UNESCO-PBB, yang berasal dari Belgia itu mendapatkan antusiasme yang tinggi dari mahasiswa karena mengajarkan bahasa yang sudah diakui UNESCO.

Kegiatan ini dilakukan untuk mengenalkan bahasa Esperanto kepada mahasiswa lantaran bahasa ini merupakan bahasa internasional kedua yang digunakan di 117 negara di dunia.

Heidi sudah melakukan penelitian di berbagai negara. Termasuk Afrika, juga sudah menggunakan bahasa Esperanto sebagai bahasa komunikasi sekaligus bahasa dalam menulis laporan.

"Bahasa Inggris memang mendunia karena dia menjajah banyak negara dulunya. Sedangkan bahasa Esperanto ini netral. Tidak identik dengan negara manapun," ungkap Heidi, dalam rilisnya, Kamis (5/4/2018).

Tanggapan positif mengenai pengenalan bahasa ini diungkapkan oleh para mahasiswa yang mengikuti kelas.

Mereka antusias mengikuti kelas dari awal hingga akhir sesi tanya jawab, satu di antaranya mahasiswa semester 2 Fakultas Ekonomi USM, Ambar Puji Astuti.

"Bagi saya yang masih baru agak sulit untuk pengucapannya, apalagi baru pertama kali mengenali bahasa Esperanto. Meskipun sebelumnya kami pernah dikenalkan bahasa Cina, Jepang dan Rusia," kata dia.

Dari pembelajaran itu, mahasiswa Ekonomi bisa menerapkan ilmunya untuk pengembangan ekonomi kreatif di luar negeri selain menggunakan bahasa Inggris.‎(*)

Penulis: raka f pujangga
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved