Liputan Khusus

Geliat Investasi di Demak Bergerak Lamban, Investor Bingung Cari Lahan

Satu pintu, tapi faktanya hanya pengambilan formulir. Investor harus mengurus rekomendasi dari semua pemangku kepentingan

Geliat Investasi di Demak Bergerak Lamban, Investor Bingung Cari Lahan
Tribun Jateng

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - ES hanya tersenyum ketika mendengar Demak menjadi daerah di Jateng yang tidak ramah investasi. Pria yang sudah 24 tahun menjalankan usaha di Demak itu tahu betul geliat bisnis di daerah tersebut.

Ia mengungkapkan, investasi di Demak berkembang lamban. Sebab, belum ada persamaan visi antara pembuat kebijakan dan investor. Contohnya dalam hal perizinan, ada bidang layanan satu pintu tapi praktiknya belum mampu memberikan pelayanan secara cepat.

ES pun pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan dalam berinvestasi. Saat itu, ia hendak mengurus izin usaha baru miliknya di layanan satu atap. Tetapi, pelayanan satu pintu itu hanya semboyan.

Sebab, ia menggambarkan semboyan satu atap itu ternyata masih banyak pintu di dalamnya. Ia harus repot mengurus ke berbagai instansi lain yang membutuhkan waktu panjang. Berbeda ketika ia mengurus perizinan satu pintu di daerah lain, seperti Jakarta.

"Satu pintu, tapi faktanya hanya pengambilan formulir. Investor harus mengurus rekomendasi dari semua pemangku kepentingan, tidak disediakan di satu bangunan. Ngurus IMB saja dua bulan, padahal perusahaan saya yang skalanya nasional langsung ngurus di pusat hanya satu bulan selesai, dan benar-benar satu pintu. Instansi terkait ada perwakilannya di satu gedung," katanya.

ES menuturkan, Demak merupakan daerah dengan potensi ekonomi sangat besar. Selain sebagai kantong industri Jateng, wilayah itu juga memiliki Sumber Daya Alam (SDA) serta jumlah penduduk besar.

"Investor ingin masuk ke daerah itu pertimbangannya banyak, mulai dari kemudahan perizinan, hingga ketersediaan infrastruktur seperti air, listrik, dan lahan," ujarnya.

Masalah ketersediaan air bersih, ES menyatakan, instansi bersangkutan belum mampu menyediakan kebutuhan ke seluruh wilayah, termasuk untuk sektor industri. Pernyataan itu sejalan dengan yang disampaikan Ketua Apindo Demak yang menyebut Demak krisis air bersih untuk industri.

"Masalah air bersih di kabupaten Demak sudah dirasakan, mungkin sejak 514 tahun daerah ini berdiri. Air belum mampu mencukupi kebutuhan masyarakat, apalagi industri," ucapnya.

Bagi perusahaan besar, ES menyatakan, air mungkin tidak menjadi persoalan karena bisa disiasati dengan melakukan pengeboran air tanah. Tetapi bagi perusahaan kecil dengan financial pas-pasan sulit untuk bisa meniru. Untuk proses pengeboran perlu biaya yang tidak sedikit.

Halaman
123
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved