Jumat, 24 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Sudah Setahun Tak Dirawat, Abdi Dalem Khawatirkan Kondisi Keraton Kasunanan Surakarta

Para abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hasiningrat, mengaku khawatir dengan nasib sejumlah pusaka

Penulis: akbar hari mukti | Editor: galih permadi
TRIBUN JATENG/AKBAR HARI MUKTI
Gusti Moeng saat diwawancarai di Siti Hinggil, kompleks Keraton Surakarta Hadiningrat, Senin (9/4/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Akbar Hari Mukti

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Para abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hasiningrat, mengaku khawatir dengan nasib sejumlah pusaka dan barang-barang peninggalan yang ada di keraton.

Pasalnya, sejak 15 April 2017 hingga saat ini sejumlah akses di keraton ditutup bagi abdi dalem.

Dengan itu, tak ada lagi abdi dalem yang melakukan perawatan ke kawasan Keraton.

Seorang abdi dalem Keraton Solo, Saptono Jati menuturkan setahun terakhir ia dan abdi dalem lain tak lagi bisa merawat benda-benda di dalam keraton.

Menurutnya sejak usai jumenengan atau peringatan naik tahta Paku Buwono XIII tahun lalu akses keraton ditutup.

"Sudah satu tahun akses keraton ditutup. Tak ada akses masuk termasuk bagi abdi dalem. Semua kegiatan yang menyangkut adat dan budaya terhenti, karena dikunci semua," urainya kepada wartawan di Siti Hinggil, Kompleks Keraton Surakarta Hadiningrat, Senin (9/4/2018).

Ia menilai, barang-barang di dalam keraton, termasuk perpustakaan merupakan benda bersejarah yang semestinya dirawat.

"Seperti wayang yang ada di sana harusnya diisis seminggu sekali agar tidak lengket. Kemudian naskah-naskah kuno yang ada di perpustakaan juga ada aturan perawatan khusus," ujar dia.

Saptono memaparkan, di dalam keraton terdapat 17 kotak wayang yang masing-masing berisi 300-an wayang.

Ada juga naskah kuno di perpustakaan. Saat ini tak ada yang bisa dilakukan abdi dalem karena ruangan dikunci semua.

Hingga saat ini mereka tidak diizinkan masuk ke dalam keraton, apalagi melakukan pekerjaannya.

"Harapan kami bisa kembali nguri-nguri kabudayan yang ada di dalam keraton dengan merawat benda benda di sana. Kalau misal kami tak boleh kerja tapi barang-barang yang ada di sana ada yang merawat tak apa. Tapi semenjak dikunci, tidak ada yang merawat barang-barang," urai dia.

Sentono Keraton Surakarta Hadiningrat, GKR Wandansari, atau Gusti Moeng menyebut tidak hanya kondisi keraton yang saat ini tidak terawat paska penutupan akses, tapi pelaksanaan upacara adat yang merupakan warisan budaya Jawa tak lagi dilaksanakan sesuai pakem.

"Saya lihat setahun ini banyak pelanggaran adat dilakukan. Termasuk upacara adat tidak lagi sesuai pakem yang ada. Seperti malam 1 suro kemarin jamnya sudah berubah dari pakem, begitu juga sekaten dan kemarin Mahesa Lawung yang terlambat satu bulan," geramnya.

Ia berharap pemerintah melihat dan mempertimbangkan serta mengambil tindakan agar budaya Jawa yang bersumber dari keraton tak musnah dan punah hanya karena perbuatan Sinuhun yang dinilainya melanggar peraturan adat.

"Harapan saya pemerintah bisa membantu menyelesaikan. Kalau kami sendiri jelas tak bisa," kata Gusti Moeng.(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved