Akhir-akhir Sering Merasa Cuaca Sangat Panas? Ini Penjelasan BMKG
Hal itu mulai terjadi dari wilayah Pantura barat, Pantura timur sampai menuju Wonogiri
Penulis: Akhtur Gumilang | Editor: muslimah
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Akhtur Gumilang
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Beberapa hari belakangan ini udara terasa lebih panas dari biasanya.
Sinar matahari juga seolah lebih menyengat.
Selain itu rasa gerah juga sering dirasakan.
Membuat kita malas untuk berkegiatan di luar ruangan.
Keringat yang keluar dari tubuh karena cuaca yang panas membuat badan menjadi lebih mudah lemas.
Stasiun Klimatologi BMKG Klas I Kota Semarang mengimbau kepada masyarakat setempat supaya sering meminum air meneral beserta memakai masker saat beraktivitas di luar rumah.
Pasalnya, kelembapan udara di sejumlah wilayah, khususnya daerah pantura mengalami peningkatan berkisar 60 hingga 70 persen.
Kondisi tersebut membuat suhu udara cenderung lebih hangat, khususnya seperti yang terjadi di Kota Semarang beberapa hari terakhir ini.
Kasi Data dan Informasi BMKG Klas I Kota Semarang, Iis Harmoko menerangkan, kelembaban udara setinggi itu tentu membuat suasana akan terasa sumuk dan gerah selama beraktifitas.
Akibatnya, tubuh jadi mudah berkeringat dan panasnya terik matahari membuat kondisi fisik rentan mengalami sakit.
"Itu salah satu tanda bahwa sebagian wilayah Jateng, khususnya pantura sudah memasuki masa pancaroba menuju musim kemarau. Biasanya jarang terjadi hujan dan sangat gerah," papar Iis saat dihubungi Tribunjateng.com, Jumat (13/4/2018).
Ia menerangkan, musim pancaroba akan terjadi dalam rentang dua bulan ke depan.
Hal itu mulai terjadi dari wilayah Pantura barat, Pantura timur sampai menuju Wonogiri.
"Awan di atas itu banyak mengumpul. Tapi tidak terjadi hujan sehingga hanya mengepul dan menciptakan kelembapan udara yang tinggi. Alhasil, ya terasa sumuk dan bikin gerah," terangnya.
Terpisah, Unggul Damarjati seorang warga Kampung Pleburan, Semarang Selatan, Semarang juga mengakui udara terasa panas, bahkan di malam hari.
Efeknya, ia belakangan ini merasa sering kegerahan dan mudah berkeringat.
"Udaranya memang bikin gerah. Akhir-akhir ini saya memang mudah berkeringat. Sudah tiga hari kalo ga salah panas dan sumuk seperti ini," ucap Unggul.
Udara yang panas juga membuat beberapa hewan terutama jenis reptil keluar sarang.
Ini menjelaskan mengapa ada banyak penemuan ular beberapa waktu belakangan.
Ular yang biasa hidup di tempat lembab dan sejuk keluar dari liangnya karena panas.
Mereka mencari sarang yang lebih lembab dan sejuk.
Sehingga warga diimbau untuk berhati-hati dengan kemunculan reptil.
Sepanjang Maret 2018 saja, warga Semarang dikejutkan kemunculan beberapa ular piton di tengah kota.
Dalam satu bulan lalu itu, ada tiga laporan mengenai kemunculan ular piton rata-rata berukuran 2,5 meter dari warga.
Kemunculan ular pertama di Semarang dipergoki oleh seorang sopir ojek online.
Seekor ular sanca kembang (Phyonus reticultus) sepanjang sekitar 2,5 meter muncul di halaman PT Pertani, Jalan Menteri Supeno, Kota Semarang, Jumat (2/3/2018) sekitar pukul 23.00 WIB.
Ali, seorang ojek online, kaget saat melihat ular tersebut bergerak melata di depannya.
Ali semula berencana menunaikan salat di Masjid Baitul Amal milik Pertani.
"Pak Ali ini yang melihat pertama, langsung panggil saya karena kaget," tutur seorang petugas keamanan PT Pertani.
Setelah penemuan ular di dalam got, selanjutnya warga Wonodri dihebohkan dengan kemunculan ular dari sebuah sumur.
Seekor ular piton besar muncul di sumur rumah warga Jalan Wonodri Krajan II No. 9 RT 4 RW 1, Wonodri, Semarang Selatan, Kota Semarang, Selasa (20/3/2018) pukul 07.30 WIB.
Ular tersebut diketahui berada di dalam sumur rumah milik Robet (41).
Pertama kali ular sepanjang kurang kebih 2.5 meter ini dilihat dan ditemukan oleh anak Robet yakni Anastasia Wahyu Dina Lestari (21).
Dina saat itu hendak mengambil air di dalam sumur.
Namun saat melihat ke dalam sumur, tampak ada ular melingkar di dalam celah sumur.
"Saya langsung menghampiri ayah saya yang ada di Pasar Wonodri. Ayah saya datang ke rumah, dan langsung melapor ke warga sekitar juga," jelas Dina, sapaan akrabnya kepada Tribunjateng.com, Selasa (20/3/2018).
Hanya berselang satu hari, laporan kemunculan ular piton kembali terdengar.
Kali ini keberadaan ular piton besar muncul di wilayah Jalan Sumbing RT 3 RW 5, Gajahmungkur, Kota Semarang, Jawa Tengah.
"Ularnya gagal ditangkap. Kata warga, ular tersebut sangat besar. Banyak ayam yang masuk ke rumah itu tak pernah kembali alias hilang," kata Slamet kepada Tribunjateng.com, saat didatangi di Markas Semarangangker, Kampung Lamper Tengah, Semarang Selatan, Rabu (21/3/2018).
Menurut Budi, staf Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah Bagian Pengendalian Ekosistem Hutan, kemunculan ular-ular tersebut bisa menjadi suatu pertanda.
Banyaknya ular yang muncul bisa menjadi pertanda akan datangnya musim kemarau.
Pasalnya, ular-ular tersebut biasa hidup di air atau tempat yang lembab.
Sehingga saat suhu udara menjadi panas karena jarang turun hujan ular pun muncul keluar sarang.
Ular tersebut keluar karena berusaha mencari sarang yang lebih lembab atau sekadar menyejukkan suhu tubuhnya.
Menurut Budi, hilangnya ayam warga dapat disebabkan karena ular tersebut sedang mencari mangsa karena lapar.
Ular piton berukuran sedang hingga besar dapat memangsa hewan unggas seperti ayam hingga anak kambing.
Setelah makan, ular biasanya tidak akan makan lagi dalam jangka waktu dua minggu.
Ular biasanya hidup sendiri atau soliter.
Tapi dapat juga hidup berkelompok saat bersama dengan pasangannya.
Ular piton termasuk dalam jenis ular yang tidak berbisa sehingga gigitannya tidak berbahaya.
Namun ular piton dapat menyerang dan melilit sebagai bentuk pertahanan diri.
Walaupun menyeramkan, keberadaan ular piton juga memiliki keuntungan untuk ekosistem.
Ular piton dapat berfungsi sebagai penyeimbang ekosistem karena ular dapat memakan hama tikus.
Petani dan warga perumahan dapat diuntungkan karena hama tikus dapat dibasmi secara alami dengan keberadaan ular. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/cuaca-panas_20180413_174256.jpg)