Nelayan Pati Alami Penuruan Hasil Tangkapan Laut, Ini Penyebabnya

Nelayan di Kabupaten Pati yang melaut menggunakan perahu jenis sopek mengalami penurunan tangkapan

Nelayan Pati Alami Penuruan Hasil Tangkapan Laut, Ini Penyebabnya
Tribun Jateng/Rifqi G
Kapal milik nelayan di Desa Pecangaan, Kecamatan Batangan, Pati kembali dari melaut, Minggu (15/4/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Rifqi Gozali

TRIBUNJATENG.COM, PATI – Nelayan di Kabupaten Pati yang melaut menggunakan perahu jenis sopek mengalami penurunan tangkapan.

Pasalnya selain pengaruh ombak karena terkadang alat tangkap mereka mengalami kerusakan karena tersangkut alat tangkap tidak ramah lingkungan milik nelayan lainnya.

Agus Supane misalnya, nelayan asal Desa Pecangaan, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati itu mengatakan, bagi nelayan yang melaut menggunakan alat tangkap berupa jaring mengalami penurunan hasil tangkap.

Umunya nelayan yang ada di desa tersebut mencari kepiting mau pun rajungan. Lantaran saat ini ombak di laut terbilang tidak terlalu besar, mengakibatkan nelayan yang menggunakan jaring sehari melaut hanya bisa mendapat satu kilogram kepiting atau rajungan.

Hal itu berbeda saat musim baratan, atau saat ombak cukup besar. Sekali melaut, nelayan mampu mendapat 5 sampai 6 kilogram rajungan.

“Saat ini yang pakai alat tangkap jaring dapat satu kilo saja sudah bagus. Tapi kalau pakai alat tangkap berupa jebakan hasilnya lumayan. Sehari bisa sampai enam kilogram, karena tidak ada ombak jadi air laut terkesan tenang,” kata Agus, Minggu (15/4/2018).

Menurunnya hasil tangkap berimbas pada pendapatannya. Harga rajungan kali ini mencapai Rp 100 ribu dirasa hanya cukup untuk kebutuhan keseharian dan bekal untuk kembali melaut.

Akibat penurunan hasil tangkap itu tidak jarang para nelayan menyiasatinya dengan mengganti alat tangkap. Sedangkan saat musim baratan, mereka kembali menggunakan jaring.

“Disesuaikan musimnya. Kalau tidak begitu nanti pendapatan kita berkurang,” katanya.

Sarmin, nelayan lainnya mengatakan, selain selain persoalan musim dan alat tangkap, ancaman bagi nelayan kecil ini yaitu adanya nelayan yang menggunakan kapal dengan alat tangkap tidak ramah lingkungan.

Pasalnya, alat tangkap tidak ramah lingkungan ketika melaut di bawah 12 mil dapat dipastikan merusak alat tangkap milik nelayan kecil.

“Ya kami yang repot kalau ada kapal nelayan yang menggunakan alat tangkap tidak ramah. Jaring kami pada rusak. Kalau pakai jebakan, juga ikut rusak,” kata dia.

Alat tangkap yang tidak ramah lingkungan itu sedianya telah dilarang oleh pemerintah. Oleh sebab itu, dia sebagai nelayan kecil meminta agar ada ketegasan atas peraturan tersebut agar tidak merugikan nelayan kecil.

“Kalau melautnya di bawah 12 mil kami yang repot. Alat tangkap kami kena kapal besar pada rusak,” katanya.

Penulis: Rifqi Gozali
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved