Warga Kendal Ini Produksi 1,2 Ton KerupukPetis Per Hari, Dibawa Sampai Luar Negeri

Dari hanya membuat satu kuintal atau 0,1 ton seminggu, kini Edi mampu memproduksi kerupuk petis buatannya menjadi 1,2 ton per hari

Warga Kendal Ini Produksi 1,2 Ton KerupukPetis  Per Hari, Dibawa Sampai Luar Negeri
Tribunjateng.com/Dhian Adi Putranto
Proses pengemasan kerupuk oleh pekerja pabrik kerupuk. 

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Berawal dari usaha yang diwariskan dari ibunya, Edi Warjiyanto terus berusaha mengembangkan produksi kerupuknya. Dari hanya mampu membuat satu kuintal atau 0,1 ton dalam seminggu, kini Edi mampu memproduksi kerupuk petis buatannya menjadi 1,2 ton per hari.

Masyarakat Indonesia sudah akrab dengan makanan ringan yang diberi nama kerupuk. Kerupuk hampir selalu hadir di setiap penyajian untuk mendampingi sajian makanan utama saat ada suatu acara.

Bahkan tak hanya itu, ketenaran kerupuk membuat makanan berbahan dasar tepung tapioka itu menjadi makanan idola masyarakat Indonesia. Di Kabupaten Kendal mempunyai industri krupuk yang produksinya mencapai 1,2 ton tiap harinya. Kerupuk berjenis kerupuk petis ini diproduksi di RT 2 RW 3 Kelurahan Sijeruk, Kecamatan Kendal.

Pabrik Kerupuk yang mampu membuat produksi sebanyak itu merupakan milik Edi Warjiyanto (46). Pabrik yang telah bediri sejak 20 tahun yang lalu itu merupakan pabrik milik ibunya yang diturunkan kepadanya.

Pria yang telah dikaruniai tiga anak itu menuturkan waktu awal dia mengambil alih usaha milik ibunya tahun 1998, dirinya hanya mampu memproduksi satu kuintal atau 0,1 ton seminggu. Permintaan yang sangat tinggi membuat ia terus-menerut peningkatan produksi kerupuk khas Kendal ini.

"Saat ini, dirinya membuka tiga cabang pabrik pembuatan krupuk, diantaranya di Kelurahan Tunggulrejo dan dua pabrik di Desa Cempokomulyo, Kecamatan Gemuh," ujarnya.

Pria kelahiran 1979 membuat dua aneka kerupuk petis, yakni kerupuk petis udang dan kerupuk petis ikan. Sering kali kerupuk produksinya itu dibeli oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) untuk oleh-oleh saat kembali ke negara tempat mereka berkerja.

"Yang paling banyak ya biasanya warga Kendal. Namun luar kota seperti Jepara, Semarang, Pekalongan, Solo serta Yogyakarta sering memesan kerupuk juga," terangnya.

Alat produksi yang digunakan Edi bisa dibilang masih manual. Untuk proses pembuatan adonan hingga pengemasan semuanya dikerjakan oleh tenaga manusia. Oleh sebab itu, untuk membuat kerupuk sebanyak 1,2 ton ini membutuhkan jumlah pekerja mencapai 25 orang.

"Kami mengemasnya dengan ukuran seperempat kilogram tiap kemasan dan dijual dalam bentuk satu paket yang isinya sebanyak 20 buah atau lima kilogram dengan harga Rp 72.000," ungkapnya.

Untuk memenuhi kebutuhan produksi itu, dalam pembelian satu kali bahan baku ia harus membeli tepung tapioka sebanyak sembilan ton. Tepung tapioka itu ia beli langsung dari Desa Ngemplak, Kabupaten Pati sedangkan untuk bahan dasar ikan dan udang ia ambil langsung dari Kabupaten kendal.

Ahmad seorang pekerja pabrik tersebut, tangannya tak berhenti meninju adonan kerupuk itu. Hal itu ia lakukan agar adonan menyatu dengan sempurna saat proses perebusan.

"Jadi setelah ini (proses peninjuan), adonan dimasukan dalam rebusan air yang mendidih setelah itu ditiriskan dan didiamkan. Selanjutnya dipotong-potong dan dijemur," terangnya.

Pria yang telah bekerja selama tiga tahun di pabrik milik Edi menuturkan dalam proses pembuatan kerupuk petis itu, kerupuk mengalami dua proses penjemuran yakni penjemuran setelah diiris dan penjemuran setelah dibumbui. "Setelah itu baru kerupuk masuk dalam proses pengemasan dan siap dipasarkan," pungkasnya.(TRIBUNJATENG/CETAK/Dhian Adi Putranto)

Penulis: Dhian Adi Putranto
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved