Pilpres 2019

Muncul Poros Ketiga dan Keinginan Ganti Presiden

"Bicara ngomongin tentu masalah bangsa, di antara tentu adalah berbicara tentang pilpres," ujar Sohibul Iman.

Editor: iswidodo
Kompas.com
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman 

TRIBUNJATENG.COM - Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Roy Suryo membantah pertemuan antara Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan dengan Presiden PKS Sohibul Iman mampu mengubah arah koalisi didalam kubu Gerindra guna menghadapi Pilpres 2019 mendatang. "Oh engak ada goyang-goyangan semua itu," ujar Roy, Sabtu (21/4).

Roy pun menganggap wajar bila setiap pimpinan parpol saling bertemu, terlebih kontestasi perhelatan pemillu dan pilpres tinggal setahun. Sebelumnya, Presiden PKS Sohibul Iman mengaku sudah bertemu Waketum Demokrat Syarief Hasan untuk membahas kemungkinan dibentuknya poros ketiga pada Pilpres 2019.

"Biasa lobi-lobi antar partai politik biasa saja. Pak Syarif selaku mantan ketua harian dan sekarang wakil ketum sendiri itu memang diwajibkan menjalin komunikasi. Kita juga sering kok menjalin komunikasi," ucap Roy.

"Nah di situ memang kemudian disampaikan Pak Syarief Hasan kami ingin berdiskusi meneropong kemungkinan munculnya poros ketiga," ujar Sohibul Iman, di Kantor DPP PKS, Jakarta Selatan, Jumat (20/4) lalu.

Tidak hanya itu, Sohibul Iman mengatakan pertemuan itu akan membahas terkait persoalan negara. Atas rencana tersebut Shohibul Iman pun mengaku menyambut baik gagasan untuk membentuk poros ketiga.

"Bicara ngomongin tentu masalah bangsa, di antara tentu adalah berbicara tentang pilpres," ujar Sohibul Iman.

Menurutnya jika Pilpres hanya dua pasang calon, dikhawatirkan terjadi segregasi (pemisahan suatu golongan dari golongan lainnya) sosial. "Nah karena itu saya kira gagasan untuk memunculkan poros ketiga saya kira bagus," ujar Sohibul Iman.

Jumat lalu, Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Syarif Hasan mengungkap rencana SBY, selaku Ketum Demokrat yang akan menemui Presiden PKS Sohibul Iman dalam waktu dekat. Namun pertemuan ditunda lantaran SBY sedang melakukan kunjungan ke Provinsi Banten.

Syarief menegaskan, pertemuan kedua pimpinan partai politik itu akan membicarakan masalah politik nasional, termasuk soal peluang koalisi kedua partai dalam Pilpres 2019. Syarif mengatakan, Demokrat memang berkomunikasi dengan semua pihak.

"Kami juga masih berkomunikasi terus, kok, dengan partai pemerintah. Jadi pertemuan antara ketum-ketum partai itu sesuatu hal yang biasa saja. Terlepas apakah berkoalisi atau tidak," kata Syarief.

Presiden PKS

PKS sebelumnya sudah menyatakan siap berkoalisi dengan Gerindra dan mengusung Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai capres 2019. Namun, PKS meminta Prabowo menggandeng salah satu dari sembilan kadernya sebagai cawapres. Namun, konflik di internal PKS mulai terlihat. Salah satunya, pernyataan yang disampaika oleh mantan Wakil Sekjen DPP PKS, Mahfuz Sidik.

Mahfuz terbuka menyindir elit PKS tekait tagar #gantipresiden. Menurutnya, meski PKS pernah bilang bahwa dalam demokrasi jangan sampai ada capres tunggal.

"Tapi menyaksikan apa yang terjadi di PKS, saya menjadi tidak yakin kalau PKS benar-benar mau ganti presiden. Walau PKS selama ini sering bicara koalisi untuk mengusung capres-cawapres untuk menantang capres Jokowi. Walau PKS sering ungkapkan bahwa punya sembilan capres dan cawapres," sindir Mahfuz.

"Walau PKS belakangan gencar galang gerakan #2019GantiPresiden, saya menjadi tidak yakin kalau PKS benar-benar mau ganti presiden!" katanya lagi

Mahfuz memberi alasan, ada salah satu kandidat capres atau cawapres yang masuk dalam dalam tokoh PKS saat ini, tapi dilarang sosialisasi dan bikin tim pendukung.

"Bukan tradisi PKS. Katanya #2019GantiPresiden, tapi dikomentari pemimpin PKS dengan nada meragukan," sindir Mahfuz lagi

Mahfuz kemudian mempertegas,alangkah lebih baik yang diganti adalah Presiden PKS. Menurutnya, jika mau memenangkan Pilpres, namun berandai-andai kalau pimpinan buat keputusan dukung capres petahana.

"Tapi saya tetap dukung PKS Ganti Presiden ! Lebih cepat lebih baik. Katanya mau menambah perolehan suara di pemilu 2019, tapi pagi-pagi kok ngomong kekurangan logistik? Saya kok jadi bingung dan jadi tidak yakin," ia menegaskan kembali. (tribunjateng/cetak/tribun network/yat/yan/kcm/zal)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved