Breaking News:

May Day, Buruh Kota Semarang Dirikan Panggung Perjuangan

Dimana menurutnya, itu adalah tentang pengupahan, suatu persoalan yang hingga kini belum terjawab oleh pemerintah saat ini.

Penulis: deni setiawan | Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/muh radlis
Perayaan May Day di Kota Semarang Siang Ini di Tri Lomba Juang pada 1 Mei 2016 lalu 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -  Hari Buruh Internasional (May Day) pada 1 Mei 2018 mendatang, Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN) Kota Semarang telah merencanakan untuk memperingatinya dalam bentuk panggung perjuangan buruh.

Adapun melalui panggung perjuangan buruh tersebut, Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) KSPN Kota Semarang Heru Budi Utoyo mengutarakan, dilakukan bersama seluruh aliansi serikat buruh serta serikat pekerja se Kota Semarang. Totalnya ada sekitar 5 ribu buruh.

“Secara umum masih sama yang bakal kami suarakan melalui panggung perjuangan itu. Seperti menyuarakan tuntutan dalam penegakan hukum di bidang ketenagakerjaan dan kesejahteraan buruh,” ucap Heru kepada Tribunjateng.com, Senin (23/4/2018).

Dimana menurutnya, itu adalah tentang pengupahan, suatu persoalan yang hingga kini belum terjawab oleh pemerintah saat ini.

Dinilainya, kehadiran Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015 itu telah menjadikan buruh semakin jauh untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak.

“Selain pengupahan, juga tentang proses peradilan yang tidak menguntungkan bagi buruh yang berselisih. Kesejahteraan melalui jaminan sosial juga perlu ada perbaikan baik kesehatan maupun ketenagakerjaan,” bebernya.

Baginya pula, pemerintah pun harus tanggap dan bertindak terhadap pelaku union busting. Dimana buruh mempunyai hak berserikat tanpa mendapatkan halangan apapun.

“Terkait adanya himbauan kegiatan May Day dikemas secara menarik atau funday, kami sudah mempunyai kemasan tersendiri. Prinsip, sejarah May Day tidak akan pernah bisa kami lepas dari sejarah perjuangan buruh untuk mendapatkan haknya,” tandas Heru.

Dan, lanjutnya, pada May Day tahun ini bakal dijadikan sebagai momentum para buruh (pekerja) khususnya se Kota Semarang untuk menyuarakan persoalan hak-hak pekerja yang belum terpenuhi serta sebagai sarana konsolidasi buruh dengan pemerintah.

“Menariknya seperti apa, panggung perjuangan kami seperti apa. Nantikan saja. Prinsip, kami akan berjuang dan terus berjuang demi terjawabnya segala tuntutan, aspirasi yang kami suarakan,” tukasnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved