Pilgub Jateng
Inspiratif, Penjual Mie Ayam Ini Dirikan Rumah Pendidikan Difabel Swadaya
Ganjar Pranowo mengunjungi salah satu rumah pendidikan difabel di Kelurahan Randublatung, Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora
Penulis: Daniel Ari Purnomo | Editor: galih permadi
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Daniel Ari Purnomo
TRIBUNJATENG.COM, BLORA - Ganjar Pranowo mengunjungi salah satu rumah pendidikan difabel di Kelurahan Randublatung, Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora, Selasa (24/4/2018).
Belasan anak penyandang disabilitas pun menyambut kedatagan Ganjar dan rombongan. Kebanyakan anak tuna grahita.
Calon Gubernur Jateng nomor urut 1 itu lantas berbaur dengan anak-anak. Mereka saling bercanda.
Rumah pendidikan difabel itu didirikan secara swadaya oleh seorang pedagang mi ayam, Suharyanto. Dia tak memungut iuran ke anak-anak yang dititipkan.
Apa latarbelakang Anto, sapaan Suharyanto, mendirikan rumah pendidikan itu?
"Anak saya, Rizky Pratama Putra, terlahir autis. Saya ingin menyekolahkan dia, tetapi terkendala ketiadan sekolah khusus. Lalu saya inisiatif dirikan ini, rumah ini," kata Anto.
Anto tak sendirian. Niatan mulia itu didukung sang istri, Sutiah. Mereka bersama merintis pembangunan rumah pendidikan difabel itu, tiga bulan lalu.
Anto memanfaatkan ruang tamu untuk aktifitas belajar anak-anak. Kini sudah ada 24 anak difabel yang dititipkan di rumah Anto.
Rumah pendidikan itu, kata Anto, hanya punya satu guru pengajar. Waktu belajarnya hanya Sabtu pukul 11.00 - 13.00 WIB dan Minggu pukul 08.00 - 12.00 WIB.
"Rumah ini pun milik kakak saya, saya numpang tinggal di sini," kata dia.
Anto berharap Ganjar menyediakan SLB resmi di Blora. Menurutnya, di Blora selatan tidak ada SLB.
"Alhamdulillah, sekarang ada satu tenaga pengajar yang bergabung. Dia cuma kami kasih uang transport Rp 10 ribu per pertemuan, seharusnya memang butuh guru tambahan tapi belum ada," katanya.
Ganjar mengatakan, SLB saat ini menjadi kewenangan provinsi. Ia berjanji menyampaikan pada dinas pendidikan agar dilakukan pengkajian pendirian SLB di Blora bagian selatan.
"Jika hasil kajiannya memang dibutuhkan akan dibuat, jika tidak maka bisa memaksimalkan sekolah negeri untuk jadi inklusi," katanya.
Alumnus UGM itu pula menyarankan Suharyanto membuat usulan bantuan sarana belajar mengajar untuk difabel.
"Yang pasti niat tulus pak Anto harus didukung warga sekitar, ada banyak cara untuk mendapat bantuan selain pemerintah bisa dari perusahaan lewat CSR," terang Ganjar.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/penjual-mie-ayam-ini-dirikan-rumah-pendidikan-difabel-swadaya_20180424_190719.jpg)