Fakultas Pertanian UNS Solo Teliti Pengembangan Agribisnis Kopi Kabupaten Temanggung

Dari penelitian ini didapat hasil bahwa kopi Temanggung masih diterima dengan sangat baik di pasar lokal atau internasional

Fakultas Pertanian UNS Solo Teliti Pengembangan Agribisnis Kopi Kabupaten Temanggung
Tribunjateng.com/Akbar Hari Mukti
Samanhudi (kedua dari kanan) dan sejumlah peneliti memamerkan hasil kopi Temanggung di Hotel Sahid Jaya, Solo, Kamis (26/4/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Akbar Hari Mukti

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Prodi agrbisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo menggelar penelitian pengembangan agribisnis agribisnis kopi Kabupaten Temanggung dan sekitarnya. Penelitian itu dikarenakan Jateng memiliki potensi komoditas kopi yang tinggi di kawasan tersebut. Tetapi tingginya potensi produksi kopi tak diimbangi harga jual yang tinggi.

Hal itu diungkapkan Wakil Dekan bidang Akademik Fakultas Pertanian UNS Solo, Samanhudi, Kamis (26/4/2018).

Samanhudi menilai, petani kopi umumnya menjual hasil panen ke tengkulak setempat tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu. Bahkan menurutnya, 99% petani menjual panen kopi dengan bentuk paling sederhana yakni green bean, tanpa diolah.

"Hal ini terjadi karena minimnya informasi yang diperoleh petani mengenai peluang pasar, standar mutu produk dan lemahnya jejaring pasar," katanya.

Maka, ia mengatakan, UNS bekerjasama dengan sejumlah pihak melakukan penelitian untuk menjawab sejumlah hal terkait permasalahan pemasaran kopi yang dihasilkan petani Temanggung dan sekitarnya.

"Tujuannya untuk mengkaji pengembangan agribisnis kopi di Temanggung dan sekitar melalui pengembangan nilai. Lalu memberi alternatif strategi pengembangan agribisnis kopi," jelasnya.
Lebih jauh ia mengatakan, penelitian UNS dilakukan pada 14 April 2018 lalu.

Dari penelitian ini didapat hasil bahwa kopi Temanggung masih diterima dengan sangat baik di pasar lokal atau internasional.

Ia pun menilai untuk mengembangkan pasar kopi Temanggung dan sekitar, di antaranya menggunakan identifikasi pembeli potensial.

Yakni, dengan dibentuknya kelembagaan koperasi sebagai pengembangan kelembagaan.
Selanjutnya, ia menerangkan, harus ada inovasi teknologi pengolah kopi oleh pemerintah maupun koperasi yang dikembangkan di sana.

"Tujuannya adalah kopi bisa diolah oleh petani lokal dan dapat menjadi nilai tambah bagi penjualan," urai dia.

Lebih jauh, ia menilai bila para petani kopi di Temanggung dan sekitar harus diberikan edukasi lanjutan untuk memperluas pangsa pasar penjualan kopi.

"Yakni, dengan cara mendorong pelaku usaha kopi menciptakan merek sendiri. Untuk itu, perlu ada pendampingan dan fasilitasi akses permodalan, semisal pelatihan manajemen usaha, dan pelatihan pembukuan usaha," kata Samanhudi. (*)

Penulis: akbar hari mukti
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved