OPINI: Menanti Gebrakan Gubernur Terpilih Baru

Meskipun demikian, kekuatan ekonomi Jawa Tengah ini, bukan tidak mungkin akan tumbuh berlipat dan mampu menyalip ekonomi Jawa Barat dan Jawa Timur

OPINI: Menanti Gebrakan Gubernur Terpilih Baru
tribunjateng/cetak/bram
Opini ditulis oleh Hendrawan Toni Taruno, S.ST, MA / Statistisi BPS Kabupaten Kendal (sementara tinggal di Amerika Serikat) 

Oleh Hendrawan Toni Taruno, S.ST, MA.

Statistisi BPS Kabupaten Kendal

TRIBUNJATENG.COM - Dua bulan lagi, tepatnya 27 Juni 2018, rakyat Jawa Tengah akan memilih Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru. Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur ini menjadi sangat penting, mengingat itulah momen krusial, rakyat Jawa Tengah akan menentukan siapa yang layak menjadi pemimpin mereka selama lima tahun ke depan.

Jawa Tengah merupakan provinsi dengan ekonomi terbesar ke-4 di Indonesia. Dengan jumlah penduduk sebanyak 34 juta, perekonomian di Jawa Tengah rata-rata mampu menyokong ekonomi nasional sekitar 8 persen setiap tahunnya. Persentase ini masih di bawah DKI Jakarta (17 persen), Jawa Barat (13 persen), dan Jawa Timur (14 persen).

Meskipun demikian, kekuatan ekonomi Jawa Tengah ini, bukan tidak mungkin akan tumbuh berlipat dan mampu menyalip ekonomi Jawa Barat dan Jawa Timur ,manakala Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih nantinya, mampu mengelola potensi Jawa Tengah, khususnya sektor-sektor yang prospektif, menjadi sumber ekonomi baru.

Pekerjaan rumah

Satu hal yang pasti, pekerjaan rumah yang akan dihadapi oleh Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru sepertinyat idaklah sederhana. Bagaimana tidak, meskipun ekonomi Jawa Tengah mampu tumbuh positif di atas 5 persen selama 7 tahun terakhir, namun pertumbuhan ini masih belum mampu menekan tingkat kemiskinan dan pengangguran secara signifikan.

Data BPS terbaru memperlihatkan bahwa sampai September 2017, jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah masih tercatat sebanyak 4,1 juta orang atau sekitar 12,23 persen. Angka ini masih jauh lebih tinggi dari rata-rata kemiskinan nasional yang sebesar 10,12 persen. Menariknya, kantong-kantong kemiskinan ini justru masih banyak ditemukan di wilayah perdesaan. Padahal kita tahu, miliaran dana desa sudah digelontorkan ke desa-desa selama 2 tahun terakhir.

Sementara tingkat ketimpangan penduduk, yang diukur oleh besarnya indek gini, juga terlihat masih stagnan. Stagnasi ini menggambarkan masih adanya gap yang lebar antara kelompok kaya dengan kelompok miskin.

Setali tiga uang, kondisi ketenagakerjaan juga masih menyisakan persoalan. Sampai Februari 2017, jumlah pengangguran terbuka di Jawa Tengah masih tercatat sebesar 755 ribu orang atau sekitar 4,15 persen. Ironinya, sekitar separuh dari jumlah pengangguran ini justru didominasi oleh mereka yang berpendidikan SMA/sederajat dan Perguruan Tinggi.

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved