Karena Ini, Wasiman Dianggap Aneh Rekan-Rekannya di Unika Soegijapranata Semarang

Dan diamini para panitia, lulusan tersebut dalam kesehariannya memang seorang rohaniawan Buddha di Vihara Tanah Putih Kota Semarang.

Karena Ini, Wasiman Dianggap Aneh Rekan-Rekannya di Unika Soegijapranata Semarang
Tribun Jateng/Deni Setiawan
Wasiman, seorang bhante atau bhikku Vihara Tanah Putih Kota Semarang mengikuti prosesi Wisuda Periode I Tahun 2018 Unika Soegijapranata Semarang, Sabtu (2/4/2018). Dia tercatat sebagai lulusan Sarjana Psikologi Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata Semarang. 

Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -  ADA pemandangan unik serta mungkin jarang dijumpai, dalam pelaksanaan Wisuda Periode I Tahun 2018 Unika Soegijapranata Semarang, ada seorang lulusan mengenakan pakaian ala bhante (bhikkhu).

Dia bernama Wasiman, lulusan Program Studi (Prodi) S1 Psikologi Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata Semarang.

Dan diamini para panitia, lulusan tersebut dalam kesehariannya memang seorang rohaniawan Buddha di Vihara Tanah Putih Kota Semarang.

Dan dalam upacara wisuda tersebut, dia adalah satu dari sekitar 532 lulusan yang diwisuda. Dia dinyatakan lulus pada 18 Oktober 2017, ber IPK 3,41. Adapun judul skripsinya adalah Fenomena Stres dan Koping Stres pada Narapidana Perempuan Kasus Narkoba di Lembaga Permasyarakatan Kelas IIA Semarang.

Di sela prosesi wisuda yang dilaksanakan di Ruang Auditorium Lantai III Gedung Albertus, Unika Soegijapranata Kampus Jalan Pawiyatan Luhur IV Nomor 1 Bendan Dhuwur Kota Semarang itu, dia pun berkisah kepada Tribunjateng.com, Sabtu (28/4/2018).

Pria kelahiran Semarang 28 Agustus 1982 itu, tidak menampik jika ada sebagian orang (masyarakat) terheran-heran. Itupun dialaminya di kala awal masuk menjadi mahasiswa Unika Soegijapranata Semarang.

“Tidak sedikit di antara rekan-rekan satu angkatan mengganggap saya aneh. Khususnya dari sisi penampilan. Namun bukan lantas saya marah atau bagaimana. Itu tidak saya persoalkan,” jelasnya.

Wasiman secara berlahan pun mencoba untuk memberikan pemahaman. Bahkan dari seringnya berkumpul, berdiskusi, maupun bertegur sapa, akhirnya lambat laun bisa berakrab diri.

“Sebagai awalan saat saya masuk ke sini –Unika Soegijapranata—memang ada kendala dan itu adalah hal wajar. Saya pahami itu. Bahkan secara pribadi ketika itu, saya belum terlalu yakin,” ucapnya.

Halaman
12
Penulis: deni setiawan
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved