Tribun Community

Yuda Ingin Populerkan Gitar Klasik, KGKS Agendakan Konser untuk Unjuk Gigi Kemampuan

Tujuh tahun yang lalu, di Kota Semarang muncul suatu komunitas yang mewadahi para penggemar, pemain, dan penyuka gitar klasik.

Yuda Ingin Populerkan Gitar Klasik, KGKS Agendakan Konser untuk Unjuk Gigi Kemampuan
istimewa
Komunitas Gitar Klasik Semarang (KGKS) 

TRIBUNJATENG.COM - Tujuh tahun yang lalu, di Kota Semarang muncul suatu komunitas yang mewadahi para penggemar, pemain, dan penyuka gitar klasik. Komunitas tersebut bernama Komunitas Gitar Klasik Semarang (KGKS).

PENCETUS adanya komunitas ini adalah Yuda Pra dan Handana. Yuda mengatakan, sebelum membentuk komunitas ini, ia kerap berkumpul dengan anggota komunitas Jazz Ngisoringin.

"Karena sering kumpul dengan mereka, saya jadi gelisah. Mengapa di Semarang belum ada komunitas yang mewadahi orang-orang yang suka dengan gitar klasik. Pertama tidak langsung mengajak orang-orang yang ingin bergabung. Tapi hanya sekadar membuat grup di media sosial Facebook," ucapnya kepada Tribun Jateng, Rabu (25/4) pagi.

Pemikiran Yuda terbuka ketika bertemu dengan Dadang yang berasal dari komunitas Orart Oret. Dari obrolan-obrolan yang dilakukan Yuda dan Dadang, akhirnya muncul gagasan untuk membuat komunitas KGKS bisa semakin berkembang. Sebagai permulaan, Yuda dan beberapa orang lain yang mempunyai satu misi dengannya, membentuk sebuah acara musik. Kegiatan tersebut diadakan di Gedung Cagar Budaya Sobokartti di Jalan Dr. Cipto, Semarang.

"Saya ingat acaranya diadakan tanggal 25 Agustus. Di sana kami mengadakan gitaran bareng menggunakan gitar klasik. Tidak hanya yang bisa main gitar, yang suka dengan gitar klasik juga hadir saat itu. Karena menjadi kegiatan pertama yang diadakan komunitas, maka di hari tersebut kami resmikan menjadi hari lahirnya KGKS," tambahnya.

Setelah mengadakan acara gitaran di Sobokartti, Yuda akhirnya mengagendakan acara yang sama secara rutin di tempat tersebut. Tujuan lain yang diinginkan Yuda terhadap komunitas ini, yakni bisa mempopulerkan era kejayaan gitar klasik yang pernah ada pada tahun 1980-an. Sebab dari pengamatannya, tidak banyak orang yang bisa memainkan lagu menggunakan gitar klasik.

"Gitar klasik cirinya menggunakan senar yang mirip dengan tali pancing. Memainkan musik menggunakan gitar ini tak mudah. Karena improvisasi nada-nadanya bukan berasal dari efek gitar elektrik. Melainkan murni dari suara petikan dan ambience nada yang keluar," jelas Yuda.

Dilihat dari akun Facebook KGKS, pengikutnya sudah berjumlah 1.341 orang. Tapi kata Milkha Azalia (23), Ketua KGKS, yang aktif mengikuti semua kagiatan hanya sekitar 20-an orang. Perbandingan antara anggota yang aktif maupun tidak memang berbeda jauh. Karena komunitas ini tidak membatasi siapapun yang ingin bergabung.

"Siapapun boleh ikut bergabung dengan kami. Bukan hanya yang bisa main gitar klasik saja, tapi juga ada yang hanya suka dan mengoleksi gitarnya. Kami tidak ada pungutan biaya apapun. Jadi silakan datang setiap kami mengadakan kegiatan," tutur Azalia.

Selama ini, komunitas KGKS rutin mengadakan kopdar dalam bentuk berbagi ilmu tentang gitar klasik. Kegiatan tersebut diadakan setiap awal bulan sekali. Tempatnya masih berpindah-pindah. Tetapi kata Azalia, komunitas ini paling sering menggunakan Cafe Tandhok yang ada di Jalan Papandayan No 11, Gajahmungkur, Semarang. Setahun sekali, komunitas KGKS juga menyelenggarakan konser dan master class.

"Tujuan diadakannya konser, supaya mental anggota komunitas bisa terbangun ketika tampil di hadapan para penonton. Konser tersebut biasanya juga menjadi ajang unjuk gigi kemampuan memainkan gitar klasik. Selain itu, ada juga coaching class gitar klasik yang diisi oleh para musisi profesional," pungkas Azalia. (*)

Penulis: faisal affan
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved