Minggu, 3 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ramadan 2018

Bikin Peci Al Aqsho, Tiap Santri Dapat Upah hingga Rp 1 Juta

Pondok pesantren yang memiliki 500 santri itu telah memasarkan produknya sampai ke Sumatera.

Tayang:
Penulis: raka f pujangga | Editor: iswidodo
tribunjateng/raka f pujangga
Jelang Ramadan, Pondok Pesantren Nurul Hidayah di Kabupaten Kebumen, kebanjiran order. Ponpes yang menjalankan beragam unit usaha ini menjadikan peci sebagai produk unggulan. 

TRIBUNJATENG.COM, KEBUMEN- Jelang Ramadan, Pondok Pesantren Nurul Hidayah di Kabupaten Kebumen, kebanjiran order. Ponpes yang menjalankan beragam unit usaha ini menjadikan peci sebagai produk unggulan.

Koordinator unit usaha peci, Tri Sulistyo, mengatakan, peci yang diberi merek Al-Aqsho tersebut merupakan hasil karya santri di sana. Di sela-sela rutinitas mempelajari Alquran, sejumlah santri juga diberi kesempatan membuat peci pukul 08.00-12.00, dilanjutkan pukul 13.00-16.00.

"Setiap bulan, tiap santri juga mendapatkan upah yang bisa mencapai Rp 1 juta per orang," ujar dia, Rabu (2/5).

Menurutnya, peci menjadi favorit dibandingkan usaha lain di ponpes tersebut. Tak heran, produksinya belum mampu memenuhi kebutuhan pasar yang tersedia.

"Karena kebanjiran order, terkadang memang tidak bisa dipenuhi semua. Kadang bertahap, kami penuhi bulan berikutnya," ujar dia.

Apalagi, saat bulan Ramadan ini, jumlah pemesanan mengalami peningkatan hingga dua kali lipat. "Sekarang, rata-rata produksi bisa 50 kodi sampai 75 kodi per bulan. Meningkat dari biasa, 30 kodi per bulan," jelas dia.

Untuk menghasilkan produksi pecinya tersebut, pihaknya dibantu 15 santri‎. Santri lain terlibat dalam unit usaha lain.

Pondok pesantren yang memiliki 500 santri itu telah memasarkan produknya sampai ke Sumatera. Tahun ini, pihaknya menjajaki pasar Kalimantan.

Harga per buah peci Al-Aqsho terbilang murah, Rp 50 ribu untuk polos dan Rp 60 ribu untuk bordir. Di Semarang, peci Al-Aqsho dan produk lain hasil dari Ponpes Nuruh Hidayah bisa didapat di Festival Syariah di Majesty Hall, Jalan Gajahmada, 2-4 Mei ini.

Festival Syariah merupakan bagian dari penyelenggaraan Indonesia Shari'a Economic Forum (ISEF). Acara yang dibuka Gubernur Bank Indonesia, Agus DW Martowardjojo, ini merupakan bagian dari pengenalan keuangan syariah.

"Ekonomi dan keuangan syariah bukanlah konsep eksklusif yang ditujukan untuk umat Islam namun merupakan konsep inklusif yang aktif melibatkan seluruh lapisan masyarakat," kata Agus, dalam sambutannya. (tribunjateng/cetak/raf)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved