Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

FOCUS

Salah #2019gantipresiden

Pemain Liverpool itu tak hanya menawan di lapangan hijau, juga memiliki segudang kegiatan amal dan sosial di luar karier sepakbolanya.

Penulis: galih permadi | Editor: iswidodo
tribunjateng/bram kusuma/cetak
Tajuk ditulis oleh Galih Permadi, Wartawan Tribun Jateng 

Tajuk ditulis oleh Wartawan Tribun Jateng, Galih Permadi

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pergerakan ISIS dan aksi terorisme membuat masyarakat di sejumlah negara termasuk Inggris menjadi apatis dan fobia terhadap Islam. Mereka menilai Islam menjadi agama yang menimbulkan ketakutan tersendiri.

Namun setahun belakangan ini, fobia masyarakat Inggris terhadap Islam mulai memudar dengan kehadiran sosok Mohamed Salah. Pemain muslim asal Mesir ini mampu mengubah pandangan rakyat Inggris terhadap Islam.

Pemain Liverpool itu tak hanya menawan di lapangan hijau, juga memiliki segudang kegiatan amal dan sosial di luar karier sepakbolanya.

Masyarakat Inggris khususnya Liverpudlian, sebutan suporter Liverpool, semakin mencintainya. Liverpudlian bahkan membuat chant alias yel-yel baru untuk Salah : "Jika Tuhanmu cukup baik untukmu, Tuhanmu cukup baik untukku . Jika kamu mencetak beberapa gol lagi, Lalu aku akan menjadi muslim juga! Jika Tuhanmu cukup baik untukmu, Tuhanmu cukup baik untukku. Duduk di masjid bersamamu, Itulah tempat yang ingin aku tuju!"

Munculnya chant tersebut tidak lepas dari perilaku beragama Salah yang kerap disoroti. Misalnya, Salah selalu sholat sebelum pertandingan dan jika membuat gol, dia akan membungkuk dalam doa atau melakukan sujud syukur.

Penggemar merasa bahwa Tuhan yang dipercaya Salah telah membantu Salah selama pertandingan, bahwa kepercayaan yang dianut Salah telah membuatnya menjadi seperti sekarang ini. Padahal, suporter sepakbola di Inggris terkenal punya perilaku paling buruk dan rasis di dunia.

Serangan teror mungkin telah menghilangkan kepercayaan penduduk dunia pada Islam, tapi Salah berhasil mengubahnya dengan prestasi yang dia tunjukkan tanpa harus menggunakan kekerasan dan kebencian.

Beda di Jepang, sebuah pergerakan dengan sistem Kyoiku Mama mampu mengubah kondisi Jepang pasca perang dunia II. Kyoiku Mama yang berarti Ibu Pendidikan mengemuka pada awal 1960-an dan hingga kini menjadi konsep acuan untuk mempelajari sistem sosial di Jepang.

Para Kyoiku Mama ini menanamkan kesopanan dan kebersihan pada anak mereka. Rata-rata mereka lulusan S1 hingga S2.

Tujuan Kyoiku Mama sekolah tinggi bukan untuk berkarir tetapi mendidik anak dan itulah karir mereka yang tertinggi. Hasilnya kemajuan ekonomi Jepang salah satunya ditopang sistem Kyoiku-Mama ini.

Makanya tidak heran kalau orang Jepang itu disiplin, memiliki etos kerja tinggi, dan menjaga kebersihan. Itu semua hasil didikan para Kyoiku-Mama, sehingga sekolah hanya untuk mentransfer ilmu saja.

Beda dengan gerakan perubahan di Indonesia bertanda pagar #2019gantipresiden. Gerakan itu dicederai pendukungnya dengan aksi persekusi kekerasan verbal dan psikis terhadap pendukung gerakan #diasibukkerja saat di CFD Jakarta, Minggu (29/4).

Berbeda pendapat sah-sah saja, tapi tak perlu harus mencederai tujuan utamanya. Seperti ajakan Grand Syaikh Al-Azhar, Ahmed Mohamed Al-Tayeb agar masyarakat saling menghargai perbedaan. "Sudah diatur dalam Al Quran bahwa manusia diciptakan tidak sama satu dengan yang lain," ujarnya saat memberikan kuliah umum di UMS Sukoharjo, Rabu (2/5/2018).

Sudah ada dua contoh baik gerakan perubahan tanpa kekerasan dan kebencian : Mohamed Salah dan Kyoiku Mama. Dua sikap perubahan yang baik dan santun bakal dibantu Tuhan, seperti yang diyakini fans Liverpool.

Kalau masih mengandalkan kekerasan dan kebencian, mungkin saja gerakan #2019gantipresiden malah tidak direstui Tuhan semesta alam. (tribunjateng/gpe/cetak)

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved